Beranda Hukum Kriminal Usir Wartawan Saat Bertugas, Ini yang Akan Dilakukan Kapolres Pada Kasat Ivans

Usir Wartawan Saat Bertugas, Ini yang Akan Dilakukan Kapolres Pada Kasat Ivans

485
0

BELU, Ranaka-news.com – Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing akan menindak tegas Kasat Resnarkoba, IPTU Ivans Drajat akibat ulahnya yang mengusir wartawan saat sedang menjalankan tugas jurnalistiknya di Polres Belu saat ada kunjungan dari Konsulat Timor Leste pada pasangan Suami Istri kurir Narkoba pada, Kamis (20/6/2019). Hal ini diungkapkan Kapolres kepada awak media pada Jumat (21/6/2019) malam.

Sebelumnya, Tujuh orang warga negara asal Timor Leste yang diduga pejabat di negara itu menemui dua tersangka kurir narkoba berinisial J (34) dan M (31) di Ruangan Kasat Resnarkoba Polres Belu (20/6/2019). Kedua tersangka yang merupakan suami istri tersebut ditangkap beberapa waktu lalu oleh Bea Cukai Atambua di PLBN Motaain saat membawa 4.874 butir pil ekstasi.

Pantauan media, ada tujuh orang warga asal Timor Leste yang diduga merupakan pejabat Timor Leste tersebut datang menjenguk J dan M. Kunjungan kali ini tak seperti biasanya karena dihadiri oleh Wakapolres Belu, Kompol I. Ketut Parten, Kabag OPS Polres Belu, Kompol Apolinario Da Silva dan Kasat Resnarkoba, Iptu Ivans Drajat. Tampak salah satunya adalah agencia Consular Republica Demokratica De Timor-Leste-Atambua Belu, Paulo Da Costa Ximenes.

Saat salah satu awak media gerbang-ntt.com, Mariano Parada, hendak mengambil gambar, Kasat Resnarkoba langsung bangkit berdiri dan mengusir wartawan tersebut. Padahal, saat yang sama ada beberapa orang dan juga wartawan yang sedang mengambil gambar. Namun, hanya Mariano yang diusir.

Kunjungan konsulat Timor Leste pada Dua warga negaranya yang ditahan di Polres Belu

“Sana…sana…jangan foto,” bentak kasat Resnarkoba, Iptu Ivans Drajat sembari mendorong Mariano.

Atas aksi Kasat Resnarkoba yang memperlakukan wartawan Media ini di hadapan para pejabat dan dua pelaku itu, membuat Mariano langsung pergi meninggalkan lokasi pertemuan tersebut.

Tak hanya sampai di situ, seusai pertemuan tersebut, beberapa wartawan kembali ke warung kopi untuk menulis pemberitaan terkait kunjungan tersebut. Namun, beberapa saat kemudian, ketika beberapa wartawan sedang menulis berita, tiba-tiba Kasat Resnarkoba datang menggunakan motor matic-nya, langsung menghampiri Mariano dan langsung bertanya, “siapa yang tadi saya dorong? Kamu ya?”

Mariano pun menjawab bahwa dirinya yang ditolak. Kasat Resnarkoba pun langsung bertanya kembali dengan wajah memerah, “tadi dorong kamu jatuh? Jatuh nggak?”

Mariano pun hanya menjawab tidak. Saat itu, Mariano sedang duduk bersama Kasat Reskrim Polres Belu. Melihat kejadian itu, Kasat Reskrim langsung menegur Kasat Resnarkoba dan menyuruhnya pulang.

Awalnya, teguran dari Kasat Reskrim tak digubris. Namun, setelah ditegur dengan nada keras, baru Kasat Resnarkoba menurut. Sesampai di motornya pun, Kasat Resnarkoba masih berdiri sembari menatap ke arah Mariano.

Tindakan ini mendapat kecaman dari para awak media yang tergabung dalam Persatuan Jurnalis Perbatasan (Pena Batas) RI-RDTL. Menurut Pena Batas RI-RDTL, tindakan yang dilakukan Kasat Ivans ini adalah tindakan premanisme dan tak patut dilakukan polisi yang adalah notabene pelindung dan pengayom masyarakat.

Tak hanya itu, Pena Batas RI-RDTL juga siap meladeni ancaman dari Iptu Ivans yang mempidanakan wartawan yang meliput peristiwa penangkapan kurir Narkoba di PLBN Motaain, 29 Mei 2019 lalu.

“Kita dari Pena Batas siap dampingi wartawan GerbangNTT.com yang adalah anggota Pena Batas, sekaligus siap ladeni jika Kasat Resnarkoba ini bilang akan ada laporan polisi terhadap kita yang meliput peristiwa penangkapan itu,” kata Sekretaris Pena Batas RI-RDTL, Yansen Bau.

Menurut Yansen, kasus kekerasan jurnalis terhadap wartawan GerbangNTT.com itu telah disikapi komunitas itu untuk menentukan langkah-langkah hukum yang akan diambil.

“Pena Batas tidak tinggal diam. Kita siap ladeni karena yang beritakan kasus penangkapan itu bukan hanya media yang wartawannya bertugas di Kabupaten Belu, tapi termasuk media-media nasional seperti Kompas.com, mediaindonesia dan lainnya,” tegasnya.

Pena Batas, lanjut Yansen, telah membuat pernyataan pers yang intinya akan melaporkan oknum pejabat Polres Belu tersebut ke Paminal, Kapolda NTT, Kapolri, dan Kompolnas.

Dalam pernyataan resmi Pena Batas RI-RDTL, kata Yansen, para wartawan mengutuk perilaku oknum pejabat polisi yang mengintimidasi Wartawan Media Online, Mariano Parada di sebuah warung di Kota Atambua, Kamis (20/6/2019).

“Kami menilai, perilaku itu tidak pantas dilakukan seorang pejabat kepolisian karena arogan dan telah mempertontonkan aksi premanisme,” demikian Yansen mengutip pernyataan resmi Pena Batas.

“Karena itu, kami meminta Kaporles Belu AKBP Christian Tobing untuk menindak oknum pejabat yang berperilaku preman. Bagi kami, Belu adalah Tanah Sahabat di Perbatasan RI-RDTL. Karena itu, tidak bisa kami toleransi oknum aparat penegak hukum yang sejatinya menjadi pengayom masyarakat justru menjadi monster bagi rakyat,” pungkasnya.

Aksi ini pun mendapat kecaman dari komunitas wartawan di Kabupaten TTU yang tergabung dalam Ikatan Wartawan (Intan) TTU. Intan TTU balik menantang Kasat Resnarkoba untuk secepatnya melaporkan para wartawan yang menulis berita itu.

Menurut Ketua Intan TTU, Lius Sikone, tindakan Kasat Ivans ini telah menghalangi tugas jurnalis ini sudah melanggar UU nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. “Ini sudah jelas-jelas melanggar pasal dalam UU Pers dan saat ini dia bisa diproses. Kalau dia bertanya tentang wartawan kebal hukum atau tidak ? Sampaikan ke dia untuk baca kembali MoU antara dewan pers dengan Polri,” tegas wartawan KompasTV ini.

Lebih lanjut Lius meminta Kasat Ivans untuk belajar lagi tentang undang-undang sebelum mengancam akan memidanakan wartawan. Apalagi, kata Lius, Kasat Ivans adalah seorang pejabat di jajaran Polres sehingga sangat disayangkan jika melakukan tindakan kekerasan terhadap jurnalis.

Akibat tindakannya tersebut, Kapolres Belu AKBP Christian Tobing kepada awak Pena Batas RI-RDTL saat melakukan pertemuan klarifikasi pada Jumat (21/6/2019).

Kapolres mengaku salah atas tindakan anggotanya. Kendati demikian kata Kapolres, perbuatan itu tidak bermaksud menghalangi tugas pekerja Media apalagi merusak hubungan keharmonisan antara Institusi Polres Belu dan Pers (Pena Batas) yang selama ini terjalin dengan baik.

“Atas nama institusi saya selaku pimpinan menyampaikan permohonan maaf. Saya pastikan dia (Kasat) salah dengan caranya begitu. Tapi tindakan untuk menghalangi itu tidak ada,” kata Kapolres Tobing.

Kapolres Tobing mengatakan, selaku pimpinan ia sudah menegur anggotanya sejak hari kejadian, dan akan mengevaluasi kompetensi Iptu Ivans selaku Kasat Resnarkoba.

Dalam waktu dekat ia akan mempertemukan Iptu Ivans Drajat dengan wartawan Gerbang NTT.Com dan Komunitas Pena Batas agar Iptu Ivans bisa menyampaikan permohonan maaf. Karena tindakan yang dilakukan Kasat Narkoba Ivans Drajat dinilai salah.

“Pasti akan kita evaluasi dan meminta kasat untuk menyampaikan permohonan maaf,” kata Tobing.

Selanjutnya, Kapolres Tobing meminta kepada wartawan di Kabupaten Belu agar tetap membangun hubungan baik dengan Polres Belu. Persoalan yang sudah terjadi pasti secara internal akan dievaluasi.

Kapolres menjamin tidak ada anggota yang berani melarang peliputan berita apalagi mengintimidasi wartawan.

Kapolres Tobing mengatakan, Polres Belu tidak pernah melarang wartawan untuk melakukan peliputan kasus-kasus di Polres Belu. Selama bertugas sebagai Kapolres Belu, ia mengaku selalu memberikan informasi ketika dikonfirmasi para wartawan.

Bahkan jika ia tidak berada di tempat, ia mengizinkan wartawan untuk mengkonfirmasi dengan para kasat dan kapolsek. Baginya, keterbukaan informasi tidak bisa ditutup-tutupi.

“Teman-teman kan tahu selama ini saya selalu terbuka dengan teman-teman. Kalau ada yang konfirmasi berita, saya pasti sampaikan. Jika saya tidak ada, pasti lewat kasat dan kapolsek. Semuanya terbuka,” ungkap Kapolres Tobing.

Ketua Perhimpunan Jurnalis Perbatasan RI-RDTL (Pena Batas), Fredirikus Bau dan rekan wartawan menerima permintaan maaf dari Kapolres Belu.

Kata Edy Bau, wartawan di Kabupaten Belu tidak bermasalah dengan institusi Polres Belu tetapi dengan oknum anggota yang adalah Kasat Narkoba Polres Belu.

Pasalnya tindakan Kasat Narkoba sudah menimbulkan rasa tidak nyaman bagi wartawan dan wartawan yang tergabung dalam Komunitas Pena Batas akan menarik diri agar tidak terjadi lagi kejadian serupa kepada teman-teman wartawan lain.

“Sepanjang Kasat Iptu Ivans Drajat masih di Polres Belu maka Pena Batas akan menarik diri dan tidak akan ke Polres Belu, kecuali untuk konfirmasi berita ke Kapolres Belu,” tands Eddy. (Richi Anyan)