Beranda Hukum Kriminal Aksi Usir Wartawan di Polres Belu Berujung Damai

Aksi Usir Wartawan di Polres Belu Berujung Damai

484
0

BELU, Ranaka-news.com – Kasat Resnarkoba Polres Belu, Ivans Drajat menyampaikan permohonan maafnya kepada awak media atas tindakan yang dilakukannya kepada salah satu Jurnalis gerbang-ntt.com yang tergabung dalam Persatuan Jurnalis Belu Berbatasan (Pena Batas) RI-RDTL beberapa waktu lalu. Hal ini disampaikannya kepada seluruh anggota Pena Batas RI-RDTL pada, Senin (24/6/2019) Malam.

Menurutnya, apa yang dilakukannya saat itu merupakan tindakan out of control. Hal itu dikarenakan, pada saat itu, dirinya sedang menerima tamu luar negeri yang sedang membesuk warganya yang ditahan di Polres Belu akibat kedapatan membawa ribuan pil Ekstasi masuk ke wilayah Indonesia pada 29 Mei 2019 silam.

Dijelaskan, kunjungan saat itu merupakan sebuah kunjungan dari Konsulat Timor Leste bersama Kapolres Oecusse dan beberapa tamu lainnnya. Saat itu pun , Kapolres Belu Christian Tobing tidak sedang berada di tempat. Karena itu, dirinya menerima kunjungan tersebut dalam keadaan panik.

Dalam situasi tersebut, dirinya merasa risih dengan suasana di luar ruangan yang gaduh. Dirinya merasa tidak dapat berkonsentrasi dengan baik saat berbicara dengan para tamu pada waktu itu.

Karena tak bisa berkonsentrasi, dirinya keluar untuk menenangkan situasi di luar ruangan. Kebetulan saat itu, dirinya mendapati jurnalis gerbang-ntt.com sedang mengambil gambar. Karena terbawa emosi, dirinya langsung mengusir jurnalis itu.

Lebih lanjut dikatakan bahwa kejadian selanjutnya yang terjadi di warung kopi merupakan aksi out of control. Seharusnya, kejadian tersebut tidak terjadi, tapi karena terbawa emosi atas teguran dari Kapolres Belu, dirinya langsung datang menghampiri Mariano Parada.

Tindakan ini pun mendapat kecaman dari berbagai organisasi Jurnalis, baik itu Pena Batas RI-RDTL, Ikatan Wartawan (Intan) TTU maupun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) NTT.

Karena itu, Kasat Ivans meminta maaf kepada semua jurnalis yang tergabung dalam Pena Batas RI-RDTL, Intan TTU, dan juga AJI NTT.

“Apa yang saya lakukan merupakan sebuah tindakan out of control dan sangat memalukan. Karena itu, saya secara pribadi menyampaikan permohonan maaf kepada Mariano dan rekan-rekan jurnalis yang tergabung dalam Pena Batas RI-RDTL, Intan TTU, dan juga AJI NTT. Saya tidak punya niat untuk menghalang-halangi tugas wartawan, tapi sekali lagi itu merupakan tindakan out of control,” ucapnya.

Ketua Pena Batas RI-RDTL, Edy Bau menuturkan bahwa kejadian serupa yang dialami Mariano merupakan kejadian yang sudah biasa dialami jurnalis di Lapangan. Akan tetapi, kejadian seperti itu bukan lantas membuat Pena Batas RI-RDTL hanya tinggal diam. Karena itu, Pena Batas RI-RDTL mengambil langkah advokasi melalui pemberitaan dan juga tindakan advokasi lainnya.

“Walau kejadian ini sudah menjadi hal biasa bagi kami yang sering dialami di Lapangan. Tapi, kejadian ini bukan membuat kami hanya tinggal diam. Semua yang kami jalankan sudah sesuai dengan kaidah yang ada dalam UU Pers. Karena itu, kami tindaklanjuti lewat pemberitaan dan jalur advokasi lainnya,” tegas Edy.

Selaku Ketua, Edy menyampaikan permohonan maafnya bila ada tindakan kurang berkenan yang dilakukan oleh anggota Pena Batas RI-RDTL selama menjalankan tugas jurnalistiknya. Dirinya berharap, semoga kejadian tersebut dapat menjadi pelajaran bersama untuk saling menghargai dalam menjalankan tugas masing-masing.

“Kami juga memohon maaf bila ada tindakan dari kami yang selama ini kurang berkenan. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bersama untuk kita saking menghargai dalam menjalankan tugas kita masing-masing,” ringkasnya.

Jurnalis gerbang-ntt.com, Mariano Parada pada kesempatan itu dengan lapang dada menerima permintaan maaf dari Kasat Ivans. Baginya, tindakan yang dilakukan oleh Kasat Ivans sudah sering dialami oleh wartawan lain di Lapangan. Akan tetapi, dirinya merasa tersinggung dengan tindakan Kasat Ivans yang mengikutinya di warung kopi. Akan tetapi, kejadian tersebut, menurut Mariano, hanya miskomunikasi semata.

“Saya juga sampaikan permohonan maaf, karena bagi saya ini hanya miskomunikasi. Saat itu saya merasa sedikit malu. Tapi waktu kejadian di warung kopi itu yang membuat saya tersinggung. Akan tetapi, bagi saya, ini hanya kesalahpahaman saja. Karena itu, saya menerima permohonan maaf,” tutur Mariano.

Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing meminta agar setelah ada permohonan maaf oleh Kasat Resnarkoba, teman-teman wartawan dapat menerima, memaafkan dan kembali membangun komunikasi dan hubungan yang baik seperti selama ini sudah terjalin antara Pena batas dan Polres Belu.

Kapolres Tobing berharap dengan adanya kejadian ini menjadi catatan refleksi bersama dan menjadikan hubungan baik dan keharmonisan antara Pena Batas dan Polres Belu selama ini makin kuat.

“Saya berharap setelah ini kita tetap kembali membangun komunikasi yang baik untuk saling mendukung kerja pelayanan kita kedepan,” pintanya.

Proses saling memaafkan tersebut ditutup dengan aksi saling bersalaman dan berpelukan antara Mariano dan Kasat Ivans. (Richi Anyan)