Beranda Hukum Kriminal Polres Belu Dimejahijaukan karena Kasus Pembunuhan di Kamanasa yang Merengut Satu Nyawa

Polres Belu Dimejahijaukan karena Kasus Pembunuhan di Kamanasa yang Merengut Satu Nyawa

336
0

Belu, Ranaka-news.com – Tindakan Babinkamtibmas Desa Kamanasa, Bripka Fabianus Lau di Polsek Malaka Tengah, Polres Belu, Polda NTT dalam pengamanan acara syukuran pemberkatan rumah milik Agustinus Nahak di Desa Kamanasa, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka menuai masalah.

Intitusi Polri digugat secara perdata, karena Bripka Fabianus lalai menjalankan tugas pengamanan hingga berakibat korban penganiayaan, Antonius Mau meninggal dunia saat menjalani perawatan medis.

Kuasa hukum Anastasia Hoar selaku penggugat, Marselinus Bere Eduk, SH kepada wartawan di Atambua, Kamis (15/8/19) mengatakan sudah mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri (PN) Kelas IB Atambua dan terdaftar dalam register perkara Nomor 31/PDT.G/2019/PN Atambua.

Gugatan diajukan, karena para tergugat dinilai telah terlibat dalam perbuatan melawan hukum (PMH). Gugatan tersebut mulai disidangkan di PN Atambua hari ini, Kamis (15/8/19). Namun, ada kesempatan untuk dilakukan mediasi penyelesaian kasus sesuai edaran Mahkamah Agung. Dalam proses mediasi, kata Marsel akan dilihat kemauan penggugat.

“Jadi, ini sederhana. Kemauan penggugat seperti apa. Kasus ini sudah nyata karena ada tersangkanya. Karena, orang lihat orang pukul orang dalam pesta. Masih lihat lagi kasi turun dari mobil dan pukul lagi,” kata Marselinus.

Menurutnya, mungkin kasus ini masih dalam penyelidikan dan penyidikan. Akan tetapi, proses penanganan kasus perlu dibuat jadi terang dan jelas. Pada kesempatan yang sama, Kuasa hukum lain, Silvester Nahak, SH menegaskan penggugat berharap agar penanganan kasus ini dilakukan secara profesional untuk menemukan tersangka.

“Jangan berdalih bahwa perkara ini tidak terang, karena banyak mata yang melihat. Harapannya, cepat ditemukan tersangka untuk ditahan,” kata Silvester. Menurutnya, proses mediasi hampir mencapai titik temu setelah dibuka sidang perdana hari ini.

Penyidik Polsek Malaka Tengah selaku wakil tergugat satu meminta kesempatan untuk mengembangkan perkara, karena PN Atambua mengembalikan berkas kasus tersebut. PN Atambua mengembalikan berkas karena sebelumnya kasus itu diajukan sebagai tindak pidana ringan (Tipiring). Penyidik diminta untuk mengembangkan kasus tersebut menjadi tindak pidana biasa karena rentetan tindak pidana yang terjadi.

Bagi penggugat, kata Silvester, Tipiring tidak bisa diterima menurut hukum, karena akibat tindak pidana tersebut menyebabkan orang meninggal dunia.

Sementara itu, dalam copyan berkas gugatan yang diterima media ini menyebutkan Anastasia selaku penggugat mengajukan gugatan ke PN Atambua, karena para tergugat yakni Institusi Polri, Agustinus Bere selaku Kades Kamanasa dan Agustinus Dasi selaku Kepala Dusun Fatisin dinilai terlibat PMH terkait kasus penganiayaan yang terjadi pada 24 Agustus 2018.

Dalam copyan surat setebal enam halaman, disebutkan anak kandung penggugat, Antonius Mau dipukul berulang kali oleh Kades Kamanasa, Agustinus Berek selaku tergugat dua dan Agustinus Dasi selaku tergugat tiga pada pesta syukuran pemberkatan rumah milik Agustinus Nahak yang beralamat di Dusun Fatisin A, Desa Kamanasa, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, 24 Agustus 2018 sekitar pukul 00. 15 Wita.

Setelah Antonius diamankan Babinkamtibmas Desa Kamanasa, Bripka Fabianus Lau selaku wakil tergugat satu, tergugat dua dan tergugat tiga masih meminta untuk mengamankan korban.

Saat itu, korban diserahkan Berupa Fabianus dan dibawa Kepala Desa dan Kepala Dusun ke lokasi yang jauh dari tempat pesta.

Adegan penganiayaan dilakukan kepala desa dan kepala dusun terhadap korban. Setelah melakukan penganiayaan, Kepala Desa dan Kepala Dusun kembali ke lokasi pesta dan bersama Bripka Fabianus Lau mengumumkan bahwa pesta boleh dilanjutkan, karena korban sudah diamankan.

Sayangnya, korban ditemukan dalam kondisi sekarat ketika matahari terbit di bawah kolong sebuah deker kecil di wilayah Desa Harekakae. Korban pun segera dilarikan ke RSPP Betun untuk dirawat dan di-Visum et Repertum. Namun, visum tidak dapat dilakukan, karena tanggung jawab aparat kepolisian.

Kondisi korban memburuk sehingga dirujuk ke RSU WZ Yohanes Kupang. Namun, tidak bisa tertolong dan meninggal dunia pada 28 Agustus 2018

Dalam gugatan itu, penggugat mencurigai korban meninggal dunia, bukan karena kecelakaan lalulintas tetapi ditidurkan oleh orang-orang yang tidak dikenal. Sepeda motor milik korban diletakan di dekat korban.

Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing yang dikonfirmasi via telpon selulernya, belum memberi jawaban hingga saat ini.



Reporter: Ricky Anyan