Beranda Hukum Kriminal Rusuh di Papua, Relawan Jokowi  Minta Presiden Pertimbangkan Datang di Kupang

Rusuh di Papua, Relawan Jokowi  Minta Presiden Pertimbangkan Datang di Kupang

170
0

KUPANG, Ranaka-news.com –Mencermati kerusuhan yang terjadi di papua hari ini adalah persoalan serius dan mengancam eksistensi kedaulatan Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI).

Indonesia sebagai negara merdeka yang berdiri atas dasar Ideologi Pancasila barusan selesai merayakan HUT yang ke 74 tahun, namun kerusuhan di papua menjadi catatan refleksi bagi bangsa ini bahwa masih ada soal yang belum mampu diselesaikan.

Kerusuhan di papua ini bermula dari permasalahan yang terjadi di surabaya, jawa timur, bahwa sesungguhnya persoalan perbedaan dan stigma kepada kaum tertentu masih menjadi parasit yang membahayakan eksistensi Pancasila.

Sehingga persoalan tidak bisa diselesaikan dengan permintaan maaf, melainkan butuh negara hadir dan tindakan nyata Presiden Jokowi sebagai kepala negara. Biar persoalan tidak terus berlanjut dan berdampak buruk. Proses pembiaran peristiwa ini sama dengan pembunuhan terhadap kemanusiaan.

Sehingga Relawan Jokowi NTT meminta pertimbangan Pak Presiden atas rencana kunjungi ke Kupang, NTT. Apalagi kunjungan ke NTT hanya untuk melakukan panen garam di desa nunkurus, kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang, NTT.

Posisi lokasi panen garam tersebut berada di tanah milik rakyat yang dicaplok oleh PT. Timor Life Stock Lestari. Sebaiknya Pak Jokowi atasi soal genting di Papua ketimbangan datang memberi legitimasi kepada perampas hak rakyat nunkurus.

Jika sampai bapak Presiden memberi legitimasi atas lokasi tambak garam tersebut, maka sama dengan Bapak Presiden membiarkan penderitaan kepada rakyat yang telah memilihnya. Sebagai Relawan Jokowi kami tidak mau kehadiran Presiden Jokowi membawa petaka bagi rakyat di Nunkurus. Karena prinsip kami adalah kehadiran Jokowi memberi kegembiraan kepada rakyat, keadilan, kesejahteraan dan kebaikan bagi semua.

Hildebertus Selly
Aktivis BaraJP NTT (Barisan Relawan Jokowi Presiden)


Reporter: Ricky Anyan