Beranda Health Waspada! Tiga Anak di Perbatasan RI-RDTL Kecanduan Hirup Bensin Hingga Mengalami Hal...

Waspada! Tiga Anak di Perbatasan RI-RDTL Kecanduan Hirup Bensin Hingga Mengalami Hal ini

202
0

Belu, Ranaka-news.com – Tiga orang anak di Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL Ini mengalami kecanduan menghirup bau bensin. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Seksi Rehabilitasi BNN Kabupaten Belu ketika ditemui media ini pada, Kamis (22/8/2019).

Dikatakan, ketiga anak tersebut memiliki memiliki umur yang berbeda yaitu 7 tahun, 13 tahun, dan 15 tahun. Ketiga anak ini tinggal di tempat yang berbeda yaitu di kecamatan Tasifeto Barat, Kecamatan Atambua Selatan, dan Kecamatan Atambua Barat.

Diceritakan, anak berumur 7 tahun yang tinggal di Tasifeto Barat ini tinggal bersama kakek dan neneknya karena kedua orang tuanya merantau ke Kalimantan untuk mengadu nasib.

Kakek anak ini memiliki sebuah bengkel motor. Mulanya, anak ini sering mencium asap motor yang diperbaiki kakeknya. Lama-kelamaan, anak ini mulai mengalami kecanduan mencium aroma bensin yang muncul dari asap knalpot motor yang diperbaiki kakeknya. Setiap motor dimatikan, anak ini akan menangis sejadi-jadinya.

Tak ingin dibuat pusing, sang kakek lantas membuka tangki motor untuk dicium anak ini. Ternyata hal itu membuat bocah 7 tahun ini menjadi lebih tenang dan tak menangis lagi. Karena itu, setiap kali sang kakek memperbaiki motor, sang anak dibiarkan terus mencium tangki agar tak menangis.

Kebiasaan ini berubah menjadi sebuah ketergantungan. Anak ini selalu membawa botol yang berisi bensin untuk diciumnya setiap hari. Bahkan, bila tak ada bensin, anak ini selalu mengambil minyak tanah yang ada dalam kompor untuk bisa diciumnya. Karena itu, sang kakek selalu menggantung kompor atau menurunnya di loteng rumah.

Lebih parah lagi, saat anak ini di sekolah, dia semakin hiperaktif dan brutal bila tak ada bensin. Dia bahkan sering memukul teman-teman sebayanya bila sudah kecanduan.

Kebiasaan anak ini dianggap sebagai hal yang biasa oleh kakeknya. Dia tidak menanggapi secara serius apa yang dialami oleh cucunya itu. Padahal anak ini sering sampai tak sadarkan diri saat usai menghirup bensin.

Suatu ketika, ketika mantan kepala BNNK Belu pagi ke sebuah acara menggunakan mobilnya, dia kaget ketika melihat tangki mobil sudah bongkar. Ketika ditanya, ternyata baru ketahuan kalau anak berumur 7 tahun ini yang membongkar tangki mobil untuk mencuri bensin. Dari situlah, mantan kepala BNNK Belu meminta anggotanya untuk segera datang dan merehabilitasi anak ini.

Setelah turun ke lapangan dan mengamati langsung perilaku sang anak, akhirnya atas persetujuan dari orang tua, anak ini dibawa ke Rumah Rehabilitasi yang berada di Noelbaki, Kupang. Selama sebulan di Rumah Rehabilitasi, anak ini diobati di RS St. Yohanes Kupang. Karena butuh penanganan yang lebih intensif karena telah mengalami gangguan saraf yang serius, anak ini pun dirujuk ke RSKO Jakarta. Namun sayang, karena dana yang kurang dari BNNK Belu, maka anak ini tak dapat dirujuk.

BNNK sudah berusaha mencarikan dana dari berbagai tempat, hanya saja hasilnya tidak memuaskan. Karena itu, sampai saat ini, anak 7 tahun tersebut masih dalam pengawasan BNNK Belu.

Selain anak ini, ada dua orang anak lain lagi yang mengalami nasib sama yaitu anak berumur 13 Tahun yang di Kecamatan Atambua Selatan dan anak berumur 15 Tahun yang tinggal di Kecamatan Atambua Barat. Keduanya mengalami kecanduan bensin. Untungnya, orang tua dari kedua anak ini cepat melaporkan ke BNNK Belu setelah mendapat sosialisasi di Kecamatan dan sekolah terkait dengan bahaya Zat Inhalan. Untuk diketahui bensin merupakan salah satu jenis Zat Inhalan.

Apa itu Zat Inhalan?

Dikutip dari situs Dunia Bebas Narkoba, Zat “Inhalan” berupa uapan zat beracun yang dihirup untuk cepat mencapai “high”. Di antara lebih dari 1.000 produk rumah tangga yang sering dipakai dan dapat disalahgunakan sebagai inhalan adalah semir sepatu, lem, toluene1, bensin, minyak korek api, nitrous oksida atau “whippets”, cat semprotan, cairan pengoreksi, cairan pembersih, amyl nitrite3 atau “poppers”, pewangi ruang ganti atau “rush”, cairan pelarut pernis, atau pelarut cat, dan lain sebagainya.

Kebanyakan dari zat-zat ini sama seperti zat anestetis yang memperlambat fungsi-fungsi tubuh. Setelah mencapai “high” awal dan kehilangan kendali, diikuti oleh ngantuk, perasaan ringan kepala, dan perasaan gelisah.

Zat-zat kimia secara cepat memasuki aliran darah melalui paru-paru dan organ lainnya. Kadang-kadang mengakibatkan kerusakan fisik dan mental yang tidak dapat disembuhkan.

Si pengguna menghirup uap kimiawi langsung dari wadah pembungkus yang terbuka (“sniffing”) atau dari uapan dari kain yang dicelup dalam zat kimiawi yang bersangkutan (“huffing”). Ada yang juga menyemprotkan zat tersebut langsung ke dalam hidung atau mulut, atau membasahi kerah, lengan atau manset baju, dan menghirup uapannya secara berkala.

Di dalam “bagging” pengguna menghirup uapnya dari zat-zat yang ada di dalam kantong kertas atau plastik. Bagging di dalam ruangan tertutup sangat meningkatkan risiko mati lemas.

Poppers” dan “whippets” yang dijual di acara konser dan dansa, terdiri dari zat-zat kimia beracun yang dapat merusak tubuh dan otak untuk selamanya.

Efek-Efek Jangka Pendek Zat Inhalan

Kebanyakan inhalan langsung mempengaruhi sistem saraf dan mengakibatkan perubahan pada cara berpikir kita. Dalam beberapa detik saja, si pengguna mengalami mabuk dan efek lainnya seperti yang diakibatkan alkohol.
Ada berbagai efek yang dapat dialami selama atau segera sesudah menggunakannya, termasuk:
• Berbicara cadel
• Mabuk
• Pusing atau penampilan teler
• Tidak mampu mengkoordinasi gerakan
• Halusinasi dan khayalan, Permusuhan
• Apatis
• Daya pertimbangan yang terganggu
• Ketidaksadaran
• Sakit kepala berat
• Bercak-bercak di sekitar hidung dan mulut.
• Mengisap zat-zat kimia ini yang berkelanjutan dapat mengakibatkan detak jantung yang tidak teratur dan cepat dan menyebabkan gagal jantung dan kematian dalam beberapa menit.
• Mati lemas dapat terjadi jika oksigen di paru-paru diganti dengan zat kimia tersebut, yang kemudian mempengaruhi pusat sistem saraf, sehingga pernapasan akan terhenti.

Efek-Efek Jangka Panjang

Pengguna jangka panjang mengalami pengalaman:
• Kelemahan otot
• Disorientasi
• Kurangnya koordinasi
• Sifat lekas marah
• Depresi
• Kerusakan yang kadang-kadang tidak dapat disembuhkan pada jantung, hati, ginjal, paru-paru dan otak
• Kerusakan daya ingat, penurunan kecerdasan
• Kehilangan daya dengar
• Kerusakan pada sumsum tulang
• Kematian karena gagal jantung atau sesak napas (kehilangan oksigen)

Penggunaan bahan penghirup terkait dengan beberapa masalah kesehatan yang serius. Menghirup lem dan tiner mengakibatkan masalah pada ginjal. Menghirup toluene dan bahan pelarut lainnya berakibat kerusakan pada hati. Penyalahgunaan inhalan juga berakibat kerusakan pada daya ingat dan melemahkan kecerdasan.

Sejarah Inhalan, Penyebaran, dan Asal-Usul

Menghirup uap dari bahan kimia seperti kemenyan, minyak-minyakan, damar, bumbu-bumbuan dan minyak wangi untuk mengubah kesadaran, atau sebagai bagian dari upacara keagamaan, berasal dari zaman kuno di Mesir, Babilonia (kini wilayah Irak), India dan Cina.

Menurut beberapa peneliti menghirup bahan menguap untuk mengubah keadaan sadar seseorang telah digunakan para pendeta wanita di Oracle of Delphi1 di Yunani kuno.

Di awal tahun 1800-an, nitrous oksida, eter dan kloroform merupakan zat anestetis yang biasa digunakan sebagai minuman keras.

Oxida nitrus dianggap sebagai pengganti alkohol yang murah dan dipopulerkan oleh ilmuwan Inggris Sir Humphry Davy. Dia mengadakan pesta nitrous oksida dan menciptakan kata “gas ketawa” di tahun 1799. Memperhatikan efek anestetisnya, Davy menawarkan gas tersebut untuk digunakan pada kegiatan operasi, namun hal ini baru dicoba setengah abad kemudian.

Penggunaan anestetis untuk tujuan rekreasi terus berlangsung selama abad ke-19 di Eropa dan di AS.

Eter digunakan sebagai narkoba untuk rekreasi selama era Prohibition (undang-undang larangan pembuatan dan penjualan minuman keras) dalam tahun 1920-an, ketika alkohol menjadi bahan ilegal di AS.

Dalam tahun 1940-an, pengunaan bahan-bahan pelarut, khususnya bensin untuk tujuan rekreasi menjadi populer.

Penyalahgunaan inhalan di Amerika Serikat meningkat di tahun 1950-an dan saat ini digunakan secara luas di kalangan orang dewasa.

Pada tahun 1960-an, menghirup zat pelarut telah menyebar hingga berbagai jenis produk komersial termasuk cat dan tiner pernis, penghilang cat kuku, semir sepatu, bahan cairan penyulut rokok, cat semprot dan lain-lain.

Dalam beberapa tahun terakhir, menghirup lem dan gas menjadi masalah yang meluas di kalangan anak jalanan tunawisma di Asia Selatan, Meksiko, Eropa Timur, Kenya dan wilayah lain di seluruh dunia. Anak-anak jalanan menggunakan inhalan ini untuk mereda sakit kelaparan, kedinginan dan keputusasaan.

Menghirup gas dan zat penyemprot juga secara umum dilakukan di daerah terpencil di Kanada, Amerika, Australia, Selandia Baru dan beberapa Kepulauan Pasifik.

Pesan Kepala BNNK Belu

Kepala BNNK Belu, Apolinario Da Silva memberikan beberapa pesan kepada orang tua agar setiap orang tua harus mengawasi anaknya agar dijauhkan dari Zat Inhalan. Selain itu, jangan membawa anak ke tempat kerja yang sensitif dengan Zat Inhalan. “Termasuk anak yang sering membantu orang tuanya menjual bensin eceran, itu sebenarnya dapat membahayakan Anak,” jelas Apolinario.

Apolinario berharap agar bila ada anak yang mengalami gejala seperti yang dijelaskan di atas, maka segera melaporkan ke BNNK Belu atau Rumah Sakit Sito Husada, Puskesmas Kota, Puskesmas Umanen, Klinik Pratama BNNK Belu, dan Rumah Sakit Kristo Rei Lolowa.


Reporter: Ricky Anyan