Beranda NTT BNNK Kupang Gelar Bimtek P4GN di Lingkungan Usaha Hotel

BNNK Kupang Gelar Bimtek P4GN di Lingkungan Usaha Hotel

159
0

KUPANG, RANAKA-NEWS.com – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kupang menggelar  Bimbingan Teknis (Bimtek) Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di lingkungan usaha perhotelan, di Hotel On The Rock, Kamis (29/8/2019).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala BNN Kota Kupang, Kompol Lino Do R. Pereira, SH, dengan materi Pengembangan Kapasitas dan Pemberdayaan Masyarakat Anti Narkoba di Dunia Usaha (Bimbingan Teknis Usaha Penggiat Anti Narkoba). Tujuan dari kegiatan ini bimbingan teknis untuk lingkungan  perhotelan,dimana sebelumnya kita sudah workshop, ini kelanjutan dari sosialisasi tersebut.

“Kita tahu di NTT sedang bergemanya pariwisata sehingga hal ini untuk para staf di hotel tersebut bisa mengantisipasi secara dini mungkin sebelum peredaran narkoba meluas kewilayah kita di NTT, “ujar Kompol Lino. Menurutnya strategi dan kebijakan P4GN yaitu strategi penanggulangan dengan Demand dan Supply.

Dalam hal ini kata dia, peran Dayamas dalam P4GN yaitu dengan Mencegah, Melakukan Advokasi, Diseminasi informasi. Berantas, dengan membuat masyarakat berani melaporkan aksi kejahatan narkoba. Rehab, membantu penjangkauan dan kemandirian inisiatif, panti rehab oleh masyarakat.

“Deteksi Dini Penyalahgunaan Narkoba dapat dilaksanakan melalui tes urine. Bagi yang terdeteksi positif akan dilakukan assesment untuk program rehabilitasi,” tambahnya.

Bagaimana dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) ? Angka prevalensi Penyalahgunaan mencapai angka 0,99% atau berjumlah 36.022 Penyalahguna pada kelompok usia 10-59 tahun. Jumlah kerugian penyalahgunaan narkoba diperkirakan sebanyak 903,6 miliar rupiah. Daerah  berbentuk kepulauan sehingga lebih rawan/berpotensi dalam peredaran gelap narkoba.

“Dimana saja tempat penyimpanan narkoba oleh sindikat narkoba yaitu diselipkan pada pinggiran termos, jenis Shabu dimasukan dalam sendal wanita model wegas, dimasukan dalam Aki mobil, dimasukan dalam tiang pancang, telan dalam perut. Dimasukan melalui anus dan alat vital, sebanyak 20 kg Kokain dalam papan selancar, Ganja cair disamarkan dalam Liquid Vape, ( Rokok Elektrik) – Sumba Timur.

Arah kebijakan nasional; Menjadikan penduduk Indonesia ‘Imun’ terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba melalui partisipasi aktif seluruh komponen masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia dengan menumbuhkan sikap menolak narkoba dan menciptakan lingkungan bebas narkoba.

Menjadikan penduduk Indonesai (Penyalahguna narkoba) secara bertahap mendapat layanan  rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial melalui rawat inap atau rawat jalan serta mencegah kekambuhan dengan program after care (rawat lanjut).

Menumpas jaringan sindikat narkoba hingga keakar- akarnya melalui pemutusan jaringan sindikat narkoba dalam dan luar negeri dan penghancuran kekuatan ekonomi jaringan sindikat narkoba dengan cara penyita asset yang berasal dari tindak pidana narkotika melalui penegakan hukum yang tegas dan keras.

Ia berharap kepada peserta usaha hotel yang hadir 20 orang tersebut, sekembalinya dari kegiatan sosialisasi ini paling tidak menceritakan ke karyawan lain, kepada pimpinannya, sehingga mereka sama-sama mengantisipasi peredaran narkoba yang bisa saja setiap saat masuk kehotel -hotel tersebut.

Sementara itu Benediktus Labre sebagai narasumber dengan materinya Kedudukan, Tugas dan Fungsi Penggiat Anti Narkoba di Lingkungan Swasta.

Dikatakan Ben, Penggiat Anti Narkoba adalah Mitra kerja BNN yang memiliki kemauan dengan suka rela melakukan upaya sinergitas program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran Gelap Narkoba (P4GN) secara mandiri.

“Menjadi penggiat Anti Narkoba adalah langkah mulia, karena merupakan satu bentuk upaya  memproteksi anak bangsa dari ancaman kehancuran di masa depan.Karena itulah, diperlukan niatan yang tulus, dan aladan yang kuat untuk menjalani misi mulia tersebut,” ujar Benediktus.

Lanjut dia, apa tugas dan penggiat Anti Narkoba? Yaitu menyebarluaskan informasi tentang P4GN dan sebagai penggerak seluruh masyarakat dan sumber daya yang ada di lingkungannya untuk ikut serta dalam P4GN.

“Strategi  pencegahan penyalahgunaan Narkoba ditempat kerja yaitu mengembangkan budaya limgkungan kerja bersih narkoba melalui upaya pencegahan yaitu dengan sosialisasi/diseminasi informasi dan advokasi secara intensif untuk memberikan edukasi kepada para pekerja tentang bahaya narkoba, serta dampaknya terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja, membuat berbagai program pencegahan yang memfokuskan pada pelatihan keterampilan (Life Skills) kepada pekerja, untuk menciptakan faktor protektif, guna mencegah penyalahgunaan narkoba oleh pekerja, serta mencegah peredaran gelap narkoba dilingkungan kerja, sekaligus menghimbau kepada para pekerja untuk melaksanakan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari hari.

“Menerapkan kebijakan lingkungan kerja bersih narkoba, pimpinan, managemen tempat kerja menerapkan kebijakan lingkungan kerja bebas narkoba, untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi komunitas pekerja, melindungi dan mempromosikan pola hidup sehat dan aman, sehingga dapat meningkatkan produtifitas dan memperkuat kinerja usaha perusahaan secara berkelanjutan, melindungi kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan pekerja, dan menawarkan dukungan bagi pekerja, yang bermasalah.

“Narkoba adalah musuh bagi kita, dengan memakai narkoba berarti hidup yang indah ini telah terbuang sia-sia. Kenikmatan yang sementara akan membawa kehancuran pada akhirnya. Alwais Spirit and Say No To Drugs,” tegas Benediktus.

Benediktus mengatakan bahwa kita ketahui di Hotel itu sangat rentan dengan tamu dari berbagai macam dunia dari luar maupun dari dalam (Domestik maupun Internasional)  ini juga kemungkinan orang-orang tertentu yang juga membawa barang-barang haram ini kesini, dengan paling kurang orang hotel itu sudah tahu sehingga mereka itu bisa mengantisipasi atau juga bisa menghubungi BNN Provinsi maupun Kota untuk bagaimana mengatasi hal-hal tersebut.

“Oleh karena itu staf atau karyawan hotel, mereka harus mempunyai satu komitmen, bagaimana untuk membuat semacam satgas yang menyusun aturan-aturan cara kerja, bagaimana untuk mengantisipasi atau mencegah masuknya narkoba melalui hotel-hotel yang ada di Kota Kupang,” tegas pensiunan Dosen itu.

Ia berharap untuk peserta yang hadir, agar setelah mereka kembali mengikuti dengan bimtek ini mencoba mengimplementasikan di Hotel mereka masing-masing dan mereka mencoba mengadvokasi mereka punya pimpinan hotel untuk bagaimana sama-sama mengatasi dan mencegah narkoba.

Yakob Eli Sendano, Salah seorang peserta Hotel Lede Tadu Kupang mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi  BNN sangat baik dan positif.

“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada BNN, dengan mengikuti sosialisasi hari ini saya banyak tahu akan bahaya narkoba. Sebagai anak muda kami sebagai pelopor untuk bisa bersosialisasi kepada organisasi-organisasi  anak muda,” ujar Yakob.

Ia berharap kepada BNN, agar sosialisasi yang baik seperti ini, jangan hanya di hotel-hotel saja tetapi di gereja-gereja, pemuda-pemuda, dalam komunitas-komunitas, dan bahkan di perkampungan. Di usaha-usaha kecil juga, seperti usaha Sopi.

“Seperti yang di jelaskan tadi bahwa Sopi bahan dasarnya herbal. Supaya mereka mengetahui bahwa dalam pembuatan Sopi jangan sampai menggunakan bahan narkoba,” tegas Yakob. (TD)