Beranda NTT Pemuda NTT: Persatuan Tanpa Sara Demi NKRI

Pemuda NTT: Persatuan Tanpa Sara Demi NKRI

158
0

KUPANG, RANAKA-NEWS.com – Komunitas Bela Indonesia (KBI) Regio NTT menyelenggarakan Talkshow Kebangsaan dengan Tema “Pemuda NTT Menjaga Persatuan Tanpa SARA demi NKRI.

Talkshow berlangsung di Tirosa cafe and Resto,depan bundaran Tirosa, Kelurahan Oebobo, Kecamatan Tuak Merah,Kota Kupang, jumat (27/9/2019) pukul 16.00-20.00 wita.

Ketua Tim Kerja Talkshow, Vivin Da Silva  dalam sambutannya, mengungkapkan bahwa talkshow yang diselenggarakan tersebut berangkat dari keresahan atas segala peristiwa di Indonesia dewasa ini, dimana nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pancasila mulai luntur seiring dengan perkembangan zaman.

“Pancasila merupakan ideologi yang menjadi pedoman dan dasar dalam berbangsa dan bernegara. Begitu banyak persoalan yang beberapa tahun terakhir ini menjadi polemik di negara kita. Mulai dari terorisme, diskriminasi, hingga rasisme bagi saudara- saudara kita di Papua. Inilah mengapa perlu diadakan proses penguatan ideologi agar dengan pemahaman yang cukup atas dasar negara kita bisa hidup berdampingan dengan baik dalam bingkai NKRI,”ujarnya.

Kegiatan talkshow yang digelar ini, dihadiri pemateri dari setiap bidang. Dari Akademisi, Yeftha Sabaat (Dosen ilmu politik UNC), Pdt. Emi Sahertian (Tokoh Agama), David Natun (Ketua Pemuda GMIT), Linda Tagie (Aktivis Perempuan), Dominikus Yempormase (POLDA NTT), dan Abdul Syukur (GP ANSOR).

Akademisi, Yeftha Sabaat, menyoroti psikologi sosial yang berkembang saat ini dari sudut pandang akademisi berangkat dari teori sosiologi dan antropologi. Dimana Indonesia merupakan negara yg pluralis. Sosio historis berdirinya negara Indonesia yg terdiri dari berbagai macam nation. Akar permasalahannya ada di identitas sosial.

Hal ini menggambarkan bagaiamana individu yang memandang permasalahan yang sedang terjadi. Misalnya masalah Papua dan Timor Leste yang akhirnya melahirkan Etnonasionalisme yakni paham kebangsaan yang berorientasi pada etnis, dan akhirnya paham nasionalis akan meredup.

Dalam diskusi, Pdt. Emi Sahertian berbicara tentang Papua. Menurutnya, setiap orang punya sudut diskriminatif dan sudut rekosiliatif. Hal tersebut yang harus digunakan oleh agama-agama untuk membangun bangsa. Papua adalah soal serius bukan hanya soal rasisme.

“Ini soal pelurusan sejarah. Sampai kapan pun Papua dan Indonesia akan terus berdampingan. Mereka harus diajak. Mereka punya kerinduan untuk bergabung tetapi mereka merasa bahwa ada gap antara kita dengan mereka. Peranan kita sangat penting karena kita adalah saudara. Dengan adanya kita, Papua merasa bahwa mereka adalah Indonesia,”ungkap Pdt.Emi Sahertian.

Menurutnya setiap orang harus mampu melihat peta politik internasional. Pandai membaca politik internasioanl di mana kapitalisme menjadikan pasca kebenaran (post truth) sebagai alat kebohongan. Hal itulah yang akan memecahkan kesatuan kita sebagai Indonesia.

Sementara itu GP Ansor, Abdul Syukur, mengatakan bahwa peran agama sangat penting dalam pluralisme karena berkaitan dengan moral, integritas. Agama memberi kekuatan dalam menanggung kehidupan penganutnya. Agama hadir sebagai upaya bersama merasakan apa yang dirasakan oleh penganutnya.

“Agama mendorong ilmu pengetahuan bagi seluruh penganutnya. Menurutnya, kita telah kehilangan nilai-nilai Pancasila. Dimana saat ini Pancasila hanya menjadi sebuah simbol/semboyan,” ujar Abdul.

Ketua Pemuda GMIT, David Natun mengatakan bahwa persoalan sekarang adalah krisis teladan. Sehingga kita perlu berusaha untuk membebaskan orang muda dari masa lalu, serangan dan pembentukan otak mereka. Ada serangan 6 F: food, fashion, film, fantasi, filosofi dan financial. Dengan demikian generasi muda harus bisa berusaha untuk membangun sejarah bagi dirinya sendiri.

Polda NTT, Dominikus Yempormase menurutnya keamanan dan ketertiban menjadi syarat utama pembangunan bangsa dan negara.

“Ini merupakan tugas bersama bukan hanya tugas polisi. Negara kita adalah negara yang sangat heterogen. Seharusnya perbedaan ini menjadikan kita tertarik untuk melakukan sesuatu yang baik. Dengan demikian kita harus mampu merajut keberagaman dalam hidup bernegara dengan cara; menghayati nilai luhur pancasila, mempelajari agama dengan baik, dan bekerjasama,” tandas polisi Dominikus.

Linda Tagie mengatakan  bahwa SARA menjadi isu yang sangat mengganggu karena sejak Indonesia merdeka, isu ini sudah menjadi alat bagi penjajah utuk menghancurkan kita. Pemerintah harus dikawal dengan kritik. Menurutnya kita tidak hanya bisa ikut arus dengan semua yang dibuat oleh pemerintah.

“Kita harus mampu menjadi control sosial. Kita harus bisa melahirkan generasi-generasi muda yang anti rasisime,” ungkap aktivis perempuan itu.

Christo Kolimo, Ketua KBI dalam sambutan penutup kegiatan ini memberi beberapa Rekomendasi yaitu,Sebarkan tagar dan semangat “Papua adalah kita, Papua adalah Indonesia”.

Perlunya upaya dialog dan pendekatan budaya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di Papua. Perlunya upaya pembauran budaya dan pendekatan etnik demi mengajak Mahasiswa Papua di NTT terlibat dalam berbagai kegiatan sehingga merasa diterima di tengah masyarakat.

Budayakan kesantunan dalam menyampaikan pendapat dalam ruang publik demi mencegah munculnya dan meningkatnya konflik di era digital-milenial.(MD)