Beranda Berita Kota BI NTT Prediksi Pertumbuhan Ekonomi NTT Masih di Atas Angka 5 Persen

BI NTT Prediksi Pertumbuhan Ekonomi NTT Masih di Atas Angka 5 Persen

146
0
KUPANG, RANAKA-NEWS.com – Menyikapi wabah Corona Virus Disease (Covid-19) yang menghentikan berbagai aktivitas ekonomi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT merevisi target pertumbuhan ekonomi selama tahun 2020. Pertumbuhan ekonomi NTT diperkirakan masih di atas angka 5%.
“Prakiraan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020 pada kisaran 5,02%-5,42%  (yoy), lebih rendah dibandingkan prakiraan sebelumnya pada kisaran 5,20%-5.60% (yoy) dan juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan  ekonomi sepanjang  tahun 2019 yang mencapai 5,20% (yoy),” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja, melalui siaran pers, Selasa (31/3/2020).
Sementara itu, inflasi sepanjang tahun 2020  tidak berubah dari proyeksi sebelumnya, berada pada kisaran 2,40%-2,80% (yoy). Stabilitas inflasi ini, menurut BI, didorong oleh pola permintaan yang masih terjaga dan ketersediaan pasokan kelompok makanan.
Bank Indonesia Provinsi NTT juga melaporkan bahwa sistem keuangan masih terjaga dengan baik. Kredit perbankan pada bulan Februari masih tumbuh sebesar 11,39% (yoy) dan rasio NPL (gross) atau tingkat kredit macet sebesar 2,14%, sementara DPK (Dana Pihak Ketiga) pada bulan yang sama tumbuh sebesar 13,89% (yoy).
“Dampak Covid-19 pada stabilitas sistem keuangan khususnya potensi pertumbuhan kredit yang melambat diprakirakan terlihat mulai Triwulan II-2020,” kata Nyoman.
Menurutnya, Bank Indonesia Provinsi NTT secara berkelanjutan tetap berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan untuk meredam dampak negative Covid-19 terhadap stabilitas sistem keuangan, khususnya risiko NPL dari sisi kredit kepada UMKM dan sektor Rumah Tangga.
Selain itu, BI NTT juga akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Satgas Pangan, dan OJK untuk memonitor secara cermat kondisi perekonomian, keuangan, dan harga-harga di pasar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan inflasi dengan baik.
Dalam rangka pencegahan penularan Covid-19, Bank Indonesia memastikan bahwa uang Rupiah yang didistribusikan kepada masyarakat adalah uang Rupiah yang telah melalui proses pengolahan khusus guna meminimalisir penyebaran Covid-19.
“Bank Indonesia bekerjasama dengan perbankan memastikan bahwa pemenuhan kebutuhan uang tunai dilakukan secara front loading. Perlu diketahui bahwa ketersediaan uang tunai mencapai 6 (enam) bulan untuk kebutuhan uang beredar,” jelas Nyoman.
Meski demikian, untuk lebih mengefektifkan tindakan pencegahan serta mendukung program Work From Home dan physical distancing, Bank Indonesia mendorong semua pihak untuk melakukan transaksi non-tunai melalui uang elektronik, mobile banking, internet banking dan ORIS.
Untuk itu, Bank Indonesia juga melakukan perpanjangan masa berlakunya MOR (Marketing Operation Region) ORIS sebesar 0% yang berlaku hingga 30 September 2020.(MD)