Beranda Berita Kota MARIA MAGDALENA: RASUL PARA RASUL (Refleksi Atas Peran Hakiki Maria Magdalena Pasca...

MARIA MAGDALENA: RASUL PARA RASUL (Refleksi Atas Peran Hakiki Maria Magdalena Pasca Kebangkitan)

347
0
KUPANG, RANAKA-NEWS.com – Lazimnya malam hari ini, di tempat [gereja] ini, di Rumah Kudus ini, kita berkumpul satu untuk merayakan Kristus yang bangkit. Biasanya di malam Kudus-suci ini, gereja begitu penuh sesak bahkan meluap sampai keluar, dipenuhi oleh umat untuk merayakan Sukacita Kebangkitan Yesus.
Mestinya, kidung indah Cahaya Kristus harus dinyanyikan dengan lantang di malam kudus ini; Seharusnya, Exultet ‘Pujian Paskah’, Warta Sukacita kebangkitan Yesus digemah-gemuruhkan pada Malam Suci Teramat Agung ini. Namun ancaman Covid-19 menjadikan rumah kita masing-masing menjadi pilihan aman untuk merayakan Tri Hari Suci di tahun ini.
Maka, ini adalah hari raya yang kita rayakan untuk keempat kalinya, tanpa kehadiran satu pun umat di dalam gereja. Gereja, yang setahun lalu begitu banyak diisi oleh laki-laki dan perempuan, oleh tua dan muda, oleh anak dan remaja, malam ini, yang terlihat hanyalah bangku-bangku kosong berdebu, seolah tanpa tuannya lagi.
Dalam situasi seperti yang saya lukiskan di atas, kita sekalian, Perayaan Malam Paskah Suci-Mulia ini, mau tidak mau, harus dirayakan oleh imam sendiri. Sungguh, pengalaman nan teramat getir, yang mungkin hanya tertoreh sekali dalam seumur hidup kita. Sebuah sejarah kelam, yang tidak mungkin dilupakan begitu saja, oleh anak manusia sejagat, teristimewa, oleh Umat Kristen Sedunia.
Sejarah kelam, sekelam Perayaan kenangan Jumat Agung, kenangan Pelecehan Anak Manusia Suci oleh algoju-algoju bengis yang berakhir drastis di atas kayu salib; Kayu Salib, oleh orang-orang Yahudi dianggap sebagai palang penghinaan, salib degradasi-kemerosotan kemanusiaan yang dihinakan kepada Yesus Tuhan yang Tersalib.
Warta pedih yang baru saja kita rayakan dalam keheningan kemarin, ternyata malam ini, kini dan di sini, juga di rumah-rumah Anda, duka-larah itu sudah diubah menjadi sukacita besar, sukacita agung, sukacita Cahaya Kristus yang Telah Bangkit, yang diwartakan oleh Malaikat Tuhan sendiri kepada Maria Magdalena dan Maria-Maria yang lain, sebagaimana yang ditulis dalam bacaan injili, “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit” (Mat.28:5b-6a).
Pertanyaannya, mengapa Maria Magdalena dan Maria-Maria yang lain, yang terlebih dahulu mendapat sukacita agung itu? Apakah karena mereka berinisiatif untuk terlebih dahulu datang ke makam Yesus?.
Mengapa sukacita besar itu tidak lebih dahulu disampaikan kepada murid-murid Yesus yang tersisa 11 orang itu?. Mengapa harus kepada Maria Magdalena (dan Maria-Maria yang lain)?. Bukankah Maria Magdalena, dicap oleh penduduk bangsanya sebagai perempuan jalang?
Lalu, mengapa harus kepada dia? Maria Magdalena, ketika dia sedang berkubang dalam dosa-derita, dia dihadapkan oleh orang sekitarnya sebagai perempuan penghancur rumah tangga orang (pelakor). Orang sangka, ketika dia dihadapkan pada Yesus, Yesus akan mengadilinya dengan cara pengadilan manusia yang mempermalukan perempuan lemah tak berdaya itu. Yesus menunjukkan patron baru, modeling ke-kini-an tentang pengadilan-Nya, yakni Pengadilan Kasih, Pengadilan Pengampunan, Pengadilan yang Menobatkan, Pengadilan yang pada gilirannya Menyembuhkan. Itulah Pengadilan Yesus, Sang Penyembuh yang Terluka.
Dalam Pengadilan yang sungguh-sungguh menyembuhkan ini, pada akhirnya membawa Kemerdekaan Pemanusiaan Maria Magdalena. Maria Magdalena, tidak saja menjadi wanita yang terbebaskan dari belenggu dosa, tetapi lebih dari itu, Dia telah menjadi Perempuan Merdeka. Sebagai Perempuan Merdeka, dengan gagah berani, tiada gentar oleh siapapun, tak terkecuali dengan kebengisan para algoju. Dia tetap melangka pasti. Dia enggan kembali, dia terus berjalan pergi, Pergi Ke Makam Sang Guru.
Sebelum tiba pada tujuannya, Maria Magdalena (dan Maria-Maria yang lain), dikejutkan oleh penampakan malaekat Tuhan. ”Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring” (Mat.28:55-6).
Yang mustinya mereka jumpai adalah Yesus Sang Guru, ternyata tidak dijumpai di sana. Alias, kubur kosong. Ini Fakta bukan fiksi!!. Maka sukacita agung itu mereka tidak ingin sendiri nikmati. Mereka harus kembali untuk membagikannya kepada murid-murid Yesus, yang masih terselubung ketakutan ngerih.
Namun saudara-saudaraku, apa gerangan yang terjadi ketika mereka sedang bergegas pulang? Di tengah jalan, di keremangan pagi itu, dalam sepi yang masih menakutkan, antara fakta atau fiksi, antara mimpi atau nyata, Yesus Sang Guru, malah hadir untuk menjumpai mereka. Sapaan khas Yesus Sang Guru, masih sama seperti yang dulu: ”Salam bagimu. Tanpa tedeng aling-aling, tanpa pikir panjang, selimut keraguan ditepis. Lalu perempuan-perempuan pemberani itu mendekati-Nya, memeluk kaki-Nya dan menyembah-Nya” (Mat.28: 9b).
Salam Yesus yang diikuti oleh Maria Magdalena, cs dengan mendekati, memeluk kaki-Nya bahkan menyembah-Nya tidak lain dan tidak bukan, adalah makna peneguhan, makna kekuatan. Simbol Pengokohan Iman, Iman akan Kristus yang benar-benar bangkit. Maka itu peneguhan-kekuatan itu dipertegas dalam kata-kata Yesus sendiri: ”Jangan Takut”.
Perjumpaan suci di jejalanan sunyi, kemudian diikuti dengan pemberian mandat pengutusan Sang Guru, “Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku” (Mat.28:10).
Perjumpaan yang menggembirakan antara Yesus dan Maria, dkk adalah Perjumpaan Kebangkitan. Sua Paska. Pertemuan nan penuh sukacita yang mau tidak mau, setuju tidak setuju, harus diwartakan. Karena itu maka Perintah Sang Guru adalah Perintah Pewartaan, Instruksi Kerasulan, Perintah untuk Bermisi; ”Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku” (Mat.28:10).
Maka Maria Magdalena secara istimewa dan mengagumkan, diberi peran yang sangat hakiki pasca kebangkitan Yesus. Ia bahkan kemudian dia diberi gelar: ‘Rasul Bagi Para Rasul’ (Model-Model Keberanian, Judette A. Gallares, r.c, hal. 242).
Maria Magdalena yang dulunya dihadapkan sebagai perempuan malang tak berdaya, ia menjadi rasul tanpa suara ketika itu. Dia diam seribu bahasa, demi sebuah proses pemerdekaan dirinya oleh Sang Tabib Agung. Demi sebuah kebangkitan dari manusia lama menjadi manusia merdeka. Dan hari ini, jauh dari keramaian kerumunan massa, Yesus mengangkat dan menahbiskannya, sebagai Rasul Bagi Para Rasul.
Adakah sesuatu yang baik yang perlu kita belajar dalam diri Rasul Perempuan Pertama ini? Adakah yang indah, untuk kita jadikan sebagai Untaian Mutiara Paska di saat ketika kita masih terpanggang dalam bara-bara ancaman Covid-19 ini.
Bahwa saat ini, kita sedang terkapar tak berdaya di hadapan Covid-19 yang makin menggila. Pengalaman menunjukkan bahwa ketika kita tertekan oleh karena cemohan dan olok-olokan, ketika kita tersayat oleh fitnah keji sama saudara, yang kita rasakan adalah perjumpaan dengan Yesus yang bangkit dalam doa-doa pribadi atau doa-doa keluarga menjadi begitu sulit dilakukan bahkan nyaris mustahil. Dalam suasana yang kini mencekam, kita kira Allah sungguh menjauh, nun jauh di sana. Kita sangka doa-doa tak lagi terdengarkan oleh Dia Sang Pendengar Sejati.
Kita merasa seolah-olah Allah meninggalkan kita dan berjuang dalam kesendirian untuk melawan gempuran badai Covid-19. Kita akhirnya merasa begitu rapuh tak berdaya. Kita terus terkerangkeng dalam batasan stay at home. Kita masih juga terkurung jeruji-jeruji batasan social distancing. Kita seketika sepertinya dipaksanakan untuk menjadi manusia a-sosial. Kita dalam kesendirian yang sunyi.
Namun dalam kesunyian itu Yesus yang bangkit, dan datang bersua-kasih dengan kita sekalian, Anda dan saya. Yesus yang bangkit, sedang berjalan masuk dari rumah ke rumah, Dia menjumpai kita, satu demi satu, dan berkata: ”Jangan takut!”.
Maka mengapa kita harus takut? Siapa yang ditakutkan? Apa yang menakutkan kita?.
Kristus yang Bangkit itu, kini ada bersama kita, di sini, di rumah ini, di dalam hatimu, juga di hatiku. Karena Dia Yang Bangkit Telah Ada di Sini, maka marilah dengan lantang kita berseru: CHRISTUS VINCIT (Kristus Menang), CHRISTUS IMPERAT (Kristus bangkit), CHRISTUS SUPERAT(Kristus Jaya)!.
(Germanus S. Attawuwur)