Beranda COVID-19 Keluh Kesah Kepada Pemprov NTT dalam Pandemi Covid-19 dari Seorang Mahasiswa Mewakili...

Keluh Kesah Kepada Pemprov NTT dalam Pandemi Covid-19 dari Seorang Mahasiswa Mewakili Semua Mahasiswa Perantau di Makassar

562
0
MAKASSAR, RANAKA-NEWS.com – Salah satu Mahasiswa Makassar asal Manggarai Nusa Tenggara Timur, Nardo Jebandur dalam opininya melalui tulisan yang dikirim langsung via WhatsApp pribadinya kepada Ranaka-News.com, surati Pemprorov NTT yang dalam hal ini Bapak Gubernur Nusa Tenggara Timur.
Isi surat:
Surat Terbuka Untuk Gubernur NTT.
Yang Terhormat Bapak Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat, S.H, bersamaan dengan surat ini, saya sampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Gubernur dan jajaran karena atas respon cepatnya dalam melakukan pencegahan penyebaran Covid-19 di Provinsi NTT.
Pada tanggal 16 April 2020 kami melihat himbauan ditujukan untuk PELNI NTT, dilarang untuk turunkan penumpang di Pelabuhan Labuan bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Saya setuju dan apresiasi langkah yang Bapak ambil hingga hari ini kami masih memilih bertahan di Makassar.
Tetapi banyak juga keluhan dari saya dan teman-teman perantau, khususnya teman-teman mahasiswa Manggarai di Makassar, Sulawesi Selatan, Pak.
Karena tidak mudah hidup di Makassar, berdiam diri berhari-hari di tengah ketakutan yang melanda, bahkan untuk mencari makan pun susah dan takut, belum lagi kekhawatiran dari orang tua yang ada di kampung halaman yang setiap hari video call/telepon untuk memastikan anaknya sehat dan sudah makan dengan layak atau tidak.
Kepada Bapak Gubernur yang terhomat, untuk diketahui mayoritas teman-teman mahasiswa dan perantau asal Manggarai Raya baik mahasiswa maupun yang bukan (pekerja). Rata-rata membiayai kehidupan pribadinya dengan jeripayah sendiri.
Ketika sekarang adanya pandemi Covid-19 ini, hampir sebagian besar dari kami mengalami kebingungan bagaimana untuk bertahan.
Bahkan sudah ada beberapa orang yang pulang tanpa mengindahkan himbauan. Argumen mereka sederhana jika dilarang pulang. Jika kami tak pulang saat ini, siapa yang akan menjamin kehidupan kami disini?.
Setidaknya kalau kami pulang kami tak perlu bingung masalah kebutuhan makan minum sehari-hari. Dan ada juga yang berkata jika kita tetap bertahan mungkin kita bisa selamat melawan Coronavirus tapi bisa mati karena tak makan.
Kami tak menganggap mereka yang terlanjur pulang ke kampung halamannya egois Pak. Karena mereka berpikir dengan apa yang terjadi sekarang relevan dengan kondisi yang dirasa saat ini jika memilih bertahan di perantauan.
Jikalau saat ini himbauan dari Bapak untuk tidak pulang kampung, maka mari tawarkan solusi yang baik untuk kami yang masih bertahan di Makassar.
Semoga tulisan ini bisa membuat Pak Gubernur dan jajaran melihat saya dan temen-temen perantau dari sudut pandang yang lain, bukan hanya melihat teman-teman perantau jika pulang kampung berpotensi membawa wabah.
Sekian keluh kesah yang saya dan teman-teman rasa semoga tulisan ini dapat sampai cepat ke Bapak Gubernur NTT Tercinta.
“Salam Hormat Dari Pulau Sulawesi”. (Nardo Jebandur/Yhono Hande/Tim RN)