Beranda Berita Kota Penundaan Jadwal Masuk Sekolah, Ini Penjelasan Kadis P dan K Kota Kupang

Penundaan Jadwal Masuk Sekolah, Ini Penjelasan Kadis P dan K Kota Kupang

407
0
Kadis P dan K Kota Kupang, Drs. Dumuliahi Djami, M.Si.
KUPANG, RANAKA-NEWS.com – Mengingat situasi di tingkat Nasional dan Kebijakan Gubernur NTT, dan juga kebijakan Wali Kota kupang, dalam rangka agar bisa memotong perkembangan Coronavirus (Covid-19). Maka masa belajar di rumah di perpanjang dari tanggal 21 April 2020 — 30 Mei 2020.
“Masa belajar di rumah di perpanjang. Ini hal pertama yang dilakukan mengingat situasi di tingkat Nasional kemudian kebijakan Gubernur NTT, dan juga kebijakan Wali Kota kupang, dalam rangka agar bisa memotong perkembangan Coronavirus (Covid-19),” tandas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumuliahi Djami, M.Si diruang kerjanya, Senin (20/4/2020) siang.
“Kita selalu memantau dari kepala sekolah masing-masing dan sementara ini walaupun memang kondisi kita tidak siap. Mau tidak mau kita harus laksanakan. Kebijakan ini dilakukan semua sekolah. Metode pembelajaran dari sekolah pun masing-masing, ada yang belajar secara online dan ada yang secara offline,” jelas Dumul.
Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang itu mengaku, sudah siapkan SK Juru Teknis (Juknis) dan sudah disebarkan ke Kepala Sekolah se-Kota Kupang tentang proses anak-anak naik kelas. Anak-anak sebelumnya dari kelas Lima (5) selanjutnya naik kelas Enam (6), SD lulus ke SMP, SMP ke SMA.
“SK Juknis sudah siap dan sudah disebarkan. Mudah-mudahan sekolah bisa melaksanakan dengan baik. Walaupun memang ada beberapa sekolah yang melaporkan bahwa mereka siap melaksanakan Ujian Sekolah (US) secara online dan ada yang tidak melaksanakan. Berarti nantinya kita menggunakan nilai-nilai yang ada,” tuturnya.
Lanjutnya, kita sudah berpesan ke teman-teman guru, kalau memang ada siswa yang tidak paham tentang suatu pokok bahasan materi, guru berkenan pergi ke rumah siswa yang bersangkutan untuk belajar sama-sama dengan siswa.
“Sejauh ini belum ada keluhan dari orang tua siswa-siswi tentang kebijakan ini, kalau memang ada siswa yang tidak paham tentang suatu pokok bahasan materi, guru berkenan pergi ke rumah siswa untuk belajar sama-sama dengan siswa,” tambahnya.
Sementara untuk tingkat kelulusan menjadi kebijakan/otonomi sekolah, silahkan sekolah menilai siswanya masing-masing.
Lebih lanjut, Dumul berharap anak-anak tetap belajar, dan guru selalu memantau, dan juga untuk anak-anak yang akan naik ke jenjang yang lebih tinggi atau naik kelas, agar mengingatkan ke semua guru perlu ada komunikasi dengan guru mata pelajaran sebelumnya.
Proses belajar mengajar itu sampai ke pokok pembahasan mana, sehingga pada saat anak-anak naik ke kelas yang satu tingkat lebih tinggi agar proses belajar mengajar harus dilanjutkan pada kelas dimana anak-anak menduduki.
Ia mengakui bahwa sebenarnya kita tidak siap dengan kondisi seperti ini. Karena anak-anak terbiasa dengan proses belajar mengajar dalam kelas tiba-tiba belajar dirumah. Oleh karena itu, baik orang tua siswa maupun guru harus pahami sehingga pada saat nanti jangan kaget bahwa memang akan memulai materi pelajaran yang sebelumnya dilanjutkan pada kelas selanjutnya.
“Kita harus mengerti dengan kondisi sehingga jangan  sampai ada persoalan-persoalan di kemudian hari, kalaupun ada persoalan, orang tua bisa datang ke dinas untuk pecahkan persoalan tersebut,” tegas Djami.
Perlu diketahui bahwa Ujian Nasional (UN) tahun ini ditiadakan sesuai kebijakan Mendikbud, sehingga tingkat kelulusan diberikan kewenangan kepada sekolah. (MD)