Beranda Daerah Dugaan Ada Pungutan Liar Di Desa Pong La’o , Ini Kata Sekretaris...

Dugaan Ada Pungutan Liar Di Desa Pong La’o , Ini Kata Sekretaris Dinas PMD Manggarai

234
0
RUTENG, RANAKA-NEWS.Com – Pemerintah Desa Pong La’o, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai menggelontorkan dana sebesar Rp111.000.000,00 dari Dana Desa (DD) tahun 2020 untuk bantuan meteran listrik gratis untuk 32 rumah tangga.
Namun, warga desa mencium adanya dugaan Pungutan Liar (Pungli) dalam proses pemasangan meteran listrik tersebut.
Menanggap hal itu, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Lorens Jelamat mengatakan, bantuan yang bersumber dari Dana Desa (DD) tidak ada tambahan seperti meminta uang kepada masyarakat yang menerima bantuan meteran listrik gratis.
“Dana Desa tidak ada lagi tambah-tambah. Namanya bantuan untuk KK miskin kalau ada tambah-tambah lagi ngapain disebut bantuan bantuan untuk KK miskin,” tegasnya saat dimintai konfirmasi, Rabu (29/4/2020).
Terkait ada oknum yang minta ganti uang pulsa, kata Lorens, itu hal yang tidak benar.
Ia menambahkan, kalau memang tidak ada pulsa di meteran, silakan menyuruh warga yang menerima bantuan meteran listrik gratis untuk membeli sendiri pulsa.
“Biar suruh mereka sendiri yang beli pulsa, bukan dengan cara minta uang ke mereka. Kalau sudah dengan cara begitu, itu sudah ada indikasi pungutan liar,” ungkapnya.
Kata Lorens, dirinya akan menelpon Pejabat Sementara (PjS) Desa Pong La’o terkait pengaduan dari masyarakat itu.
“Nanti saya telpon kadesnya. Kalau memang dengar berita seperti itu, segera klarifikasi kepada masyarakat yang melapor itu,” tuturnya.
“intinya kalau ada pengaduan begitu panggil orangnya untuk segera selesaikan supaya tidak ada lagi persoalan yang simpangsiur apalagi sudah sampai di media,” tambah Lorens.
Di RAP kata dia, sampai dengan jadinya meteran tidak ada keluar biaya apa-apa.
“Kecuali selesai pasang, ada pulsa atau tidak suruh mereka sendiri untuk beli pulsa,” tutupnya.
Sebelumnya, aroma Pungli diutarakan Wilfridus Jemalus, warga RT. 002, salah satu keluarga yang menerima bantuan meteran.
Wilfridus mengaku, setelah pemasangan meteran di rumahnya, salah satu petugas instalasi meminta uang sebesar Rp150.000,00 untuk membayar pulsa meteran.
“Saya diminta untuk memberikan uang Rp150.000,00 karena mereka bilang uang itu untuk menggantikan pulsa di meteran,” katanya.
Ia juga menceritakan, lantaran tak memiliki uang, dirinya terpaksa meminjam uang di tetangga untuk membayar pulsa tersebut.
Hal yang sama dialami Tobias Agung (40). Ia menjelaskan, seorang petugas meminta uang kepadanya sebelum melakukan pemasangan instalasi.
“Ketika tanggal 23 Maret 2020, meteran dipasang dan saya memberikan uang sebesar Rp150.000,00 kepada FS. Uang itu dipergunakan untuk mengganti pulsa meteran sesuai dengan angka pulsa yang ada di meteran. Ketika pertama kali kami gunakan meteran, ternyata pulsa hanya Rp15.000,00,” sebutnya.
Sementara Emilia Emor (57), salah satu warga juga mengatakan, setelah pemasangan instalasi dan meteran, dirinya memberikan uang kepada seorang yang memasang meteran berinisial FS sebesar Rp100.000,00.
“Kata dia (FS) uang itu sebagai ganti pulsa di meteran baru,” sebut Emor.
Secara terpisah, Pejabat Sementara (PjS) Desa Pong La’o, Damasus Herong ketika dihubungi oleh rekan media RN dan Ekora NTT lewat via telepon mengaku dirinya belum mendapatkan laporan dari masyarakat terkait hal tersebut.
“Saya belum mendapat laporan dari masyarakat. Setelah ini kami melakukan pertemuan untuk konfirmasi soal itu,” tutupnya. (Yhono Hande/A.M)