Beranda Berita Kota Dokter Mese Ataupah: Jangan Cari Tahu Coronavirus; Lupakanlah..!

Dokter Mese Ataupah: Jangan Cari Tahu Coronavirus; Lupakanlah..!

176
0
KUPANG, RANAKA-NEWS.com – Di tengah meningkatnya kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya penyebaran Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 di Provinsi NTT, Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT, dr. Meserasi B.V. Ataupah melecutkan statemen agar masyarakat tidak usah bertanya lagi berapa yang positif dan berapa yang negatif terjangkit Coronavirus. Sebaiknya masyarakat fokus bekerja dan lupakanlah tentang Coronavirus.
Dokter Mese menuturkan itu, saat bertandang ke Studio Mini Kantor Gubernur NTT, Radio Swara NTT di Jalan Raya El Tari Kupang, Rabu (20/5/2020). Saat itu, dokter Mese Ataupah ditemani juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 di Provinsi NTT yang juga Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si.
Dijelaskan dr. Meserasi, ada pengalaman menarik di ilmu kedokteran bahwa yang pernah mengalahkan virus hanya ada satu, namanya variola atau orang bilang cacar api.
“Dulu itu saja; yang pernah kami kalahkan sampai sekarang. Untuk polio, demam berdarah, HIV/AIDS; kita masih kesulitan. Bahkan HIV/AIDS sampai sekarang kita belum berhasil untuk menemukan vaksin,” ungkapnya.
Lanjutnya, pada prinsipnya kemampuan umat manusia untuk mengatasi virus masih jauh dibandingkan dengan kemampuan umat manusia untuk menaklukan virus dibandingkan bakteri.
“Kalau bakteri yah, kita sudah praktis bahkan TBC, Lepra yang dulu agak sulit; kita sudah bisa atasi dengan pengobatan,” jelasnya, menambahkan “Lalu muncul pertanyaan reflektif untuk kita, sampai kapan Coronavirus ini akan bersama kita?. Pertanyaan yang sangat menggangu kita semua”.
Secara ilmu kita masih menanti. Tapi perkiraan secara pribadi; sebagai seorang dokter; kita akan lama bersama virus ini. Lamanya sampai waktu yang kita tidak bisa spekulasi secepat ini. Tapi yang pasti tidak mungkin dalam tahun ini. Kecuali ada keajaiban yang lain.
“Kalau secara keilmuan, nampaknya kita akan sulit untuk tahun ini. Karena kalau uji coba vaksin saja kita perlu waktu; tidak bisa cepat. Tidak boleh terburu-buru. Itu akan berakibat sangat fatal bagi banyak orang,” tegas dr. Meserasi.
Kita mesti tahu bahwa Covid-19 ini ada 2 jenis; ada RNA dan DNA. Kalau DNA ini lebih spesifik; targetnya itu sangat spesifik.
“Kalau pada binatang spesifik tersendiri saja. Sedangkan kalau pada manusia itu saja. Tapi kalau Covid-19 ini jenisya RNA dan karena RNA kemampuan bermutasi atau berubahnya. Kalau mau lebih stabil dia harus ke DNA. Jadi RNA ini memang masih sangat labil; kelabilannya ini yang menyebabkan sangat sulit untuk memperoleh vaksin dan lain-lain. Ini menjadi problem. Nah, apakah gejalanya dan lain-lain; yah namanya juga virus gejala awal seperti kita batuk pilek; biasa saja, cuma namanya ada yang disebut infeksi sekunder,” terangnya.
Lebih jauh dijelaskan, setelah virus ini masuk, kemudian virus ditranskip bentuknya diubah menjadi replikasi. Rereplikasi virus ini gampang dibuat di dalam tubuh.
“Percepatan virus untuk berkembang di dalam tubuh manusia, kecepatannya sangat tinggi. Nah, tinggal sekarang keganasannya. Memang keganasannya itu karena tadi, berubahnya lebih cepat dan berapa banyak virus yang masuk menyerang dadakannya itu; yang menyebabkan ganasnya. Makin banyak birus yang masuk, makin cepat berkembang biak. Diperparah dengan daya tahan tubuh rendah maka makin jeleklah kondisi pasien atau orang yang terkena virus ini,” paparnya menambahkah “Sehingga harus kita tahu betul bagaimana perlunya daya tahan tubuh”.
Dikatakan dr. Meserasi, daya tahan tubuh adalah berkat Tuhan; diluar sana ada lawan yang disebut virus atau bakteri dan lain-lain. Tapi Tuhan juga memberikan kita antibodi.
“Artinya melawan benda asing seperti yang dari luar menyerang kita. Jadi pertempuran virus dan lain-lain dengan manusia masing-masing mempertahankan kehidupan itu sendiri dengan dia punya masalah. Pertempuran untuk mempertahankan hidup masing-masing spesies ini yang kita hadapi sekarang.
Jenis RNA ini kecepatan dari spesies yang satu ke spesies yang lain; dari binatang atau ke manusia. Itu masih diteliti tapi virus jenis RNA ini bisa berpindah itu sangat mungkin.
“Kalau jenis DNA tadi kemungkinan berpindah itu kecil sekali tapi kalau ke RNA kemungkinan karena perubahannya itu. Sehingga dia bisa kemana-mana. Nah, ini yang paling sulit. Mungkin tadi ada anggapan memang dari binatang kemudian berubah dapat menyerang manusia itu memang. Karena perubahan virus itu sendiri. Jadi sedikit saja perubahan di dalam virus itu. Karena ini masing-masing yang tadi pertempuran untuk mempertahankan kehidupan masing-masing. Jadi daya tahan masing-masing virusnya kuat; dia hidup. Virusnya lemah; dia mati. Kalau kitanya lemah; kita mati. Kitanya kuat, manusianya kuat; kita hidup. Pertempuran ini sudah dari dulu kala,” paparnya.
Untuk saat sekarang kita lebih takut dari manusia ke manusia. Kalau kembali lagi ke binatang ini masih kita duga saja, jadi yang nyata sekarang adalah dari manusia ke manusia. Karena kecepatan untuk penularannya ini (pandemic,red).
Sekarang yang disebut wabah itu : pertama, mematikan dan penyebarannya sangat cepat. Kecepatan ini yang menakutkan. Soal daya tahan kita bisa atur masing-masing; cuma kalau makin banyak yang diserang maka kemungkinan untuk mendapatkan penyakit atau daya tahan tubuh atau berubah menjadi kematian kemungkinan makin besar dengan sendirinya.
Sampai sekarang kita masih kesulitan. Salah satu caranya terpaksa harus berdamai dengan virus ini. Karena itu tadi, kita tidak ada pilihan lain; kita mencegah untuk menular lebih jauh. Karena kita tahu bahwa penularan lewat percikan air liur kita sehingga asumsinya bahwa kita semua ini mudah terkena.
“Contoh kasus misalnya di Amerika mereka kan sudah jutaan kenapa mereka disana cepat sekali karena ketersediaan alat ukur atau alat ujinya banyak. Masyarakatnya beda. Kalau kita takut untuk dites; mereka sukarela bahkan antri untuk dites. Kalau dia positif maka langsung isolasi diri atau karantina diri jauh lebih bagus kalau dia tahu penyakitnya ada di kita yah, kita isolasi diri.
Kalau di sini kan lain. Kalau kita dibilang positif bahkan terjadi stigma; sudah semacam hukuman. Jadi ada semacam kemunafikan dalam hal ini. Bahwa saya bersih kamu kotor; kamu terjangkit. Saya bersih jadi kalau kamu terjangkit kamu bukan tempat bagi kami. Padahal kan kemungkinan bagi penyakit ini kan besar sekali. Jadi yah sudahlah tinggal sekarang apakah kita masih tuduh orang bahwa kita bersih kamu kotor kamu terkena virus; kami tidak sudah lupakanlah,” tegasnya.
Mari sekarang kita sama-sama punya pikiran bahwa saya memang gampang terkena bahkan misalnya sekarang pergi untuk melakukan tes swab sekalipun negatif keluar dari tempat pemeriksaan bisa saja terkena dan langsung positif.
“Kenapa begitu? karena sangat mudah terjangkit dan itu disebut wabah, itulah masalahnya. Jadi sudahlah jangan menuduh orang yah, jangan cari-cari tahu berapa banyak yang positif? Berapa banyak yang negatif ? Sudahlah ! Lupakan itu,” pungkasnya. (MD/Tim RN)