Beranda Berita Kota New Normal Sektor Pendidikan, Benyamin Lola: Akan Tetap Berjalan Seperti Biasa

New Normal Sektor Pendidikan, Benyamin Lola: Akan Tetap Berjalan Seperti Biasa

498
0
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Drs. Benyamin Lola, MPd, diruang kerjanya, Selasa (9/6/2020).
KUPANG, RANAKA-NEWS.com – Penerapan New Normal di sektor pendidikan tidak berubah akan tetap berjalan normal seperti biasa.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Benyamin Lola, MPd, saat ditemui wartawan media ini diruang kerjanya, Selasa (9/6/2020).
Terkait penerapan New Normal, kata Benyamin Lola, akan tetap berjalan sesuai kalender akademik dan sesuai arahan Kementerian Pusat.
“Yang pertama saya mau katakan bahwa kalender pendidikan kita tidak berubah. Untuk sektor pendidikan kalender tahun ajaran baru tidak berubah tetap berjalan normal seperti biasa. Walaupun secara operasional perubahan kalender itu ditetapkan oleh masing-masing daerah, tetapi arahan umum dari Kementerian kita tetap tidak ada perubahan untuk kalender akademiknya,” jelasnya.
Untuk kalender akademik, dijelaskannya pertanggal 20 Juni 2020 nanti, seluruh siswa-siswi sekolah sudah harus diliburkan.
“Libur yang dimaksud disini libur semester. Setelah libur semester nantinya siswa akan masuk kembali tanggal 13 Juli. Setelah masuk tanggal 13 Juli itu sudah tahun pelajaran baru,” terangnya.
lebih jauh dijelaskannya, untuk saat ini siswa-siswi ada yang sudah menyelesaikan ujian semester, ada juga yang sementara melakukan ujian semester.
“Siswa-siswi kita saat ini masih tetap datang sekolah karena ada yang harus menyelesaikan ujian semester tahun ajaran 2019/2020. Jadi tentunya pelaksanaan kegiatan belajar di sekolah disesuaikan dengan kondisinya sehingga setelah ajaran tahun 2019/2020 ini, para siswa-siswi mereka akan diliburkan. Ketika masuk kembali ke sekolah, mereka sudah ada di era New Normal. Sebagaimana kebijakan yang ditetapkan oleh Bapak Gubernur, bahwa kita mulai masuk New Normal pada tanggal 15 Juni 2020,” tandas Benyamin.
Lanjut Benyamin, mengenai Penyelenggaraan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2020 dikatakannya akan dilakukan dengan dua pola, yakni secara Online dan Offline. Untuk pelaksanaan penerimaan online akan diterapkan pada 73 SMA/SMK.
“PPDB tahun ajaran 2020/2021 dari 845 sekolah yang ada di NTT yang melakukan penerimaan online ada 73 SMA/SMK, antara lain untuk SMAnya ada 34 sekolah, sedangkan untuk SMKnya ada 30 sekolah sisanya dilakukan secara offline,” terangnya.
Untuk 73 SMA/SMK ini dianggap oleh masyarakat sebagai sekolah yang banyak penggemarnya (favorite, red). “73 SMA/SMK kita lakukan pendaftaran secara online kerena dianggap sekolah favorite. Namun harus diingat juga dalam pendaftaran secara online kita menerapkan beberapa prinsip yang sudah digariskan dalam juknis,” tegasnya.
Nah berkaitan dengan itu, maka ada dua even penting yang bersentuhan dalam era New Normal dari sektor pendidikan ini. Yang pertama, even PPDB proses penerimaan siswa baru dan yang Kedua, pendaftaran siswa menurut Zonasi.
Nah proses penerimaan siswa baru nantinya akan dimulai pertanggal 15 Juni sampai dengan 27 Juni 2020. “Jadi untuk pendaftaran penerimaan siswa baru tahun ajaran baru 2020/2021 untuk SMA dan SMK yang mana pendaftarannya dilakukan secara online, pendaftarannya nantinya sampai tanggal 27 Juni 2020,” jelasnya.
Sementara untuk pendaftaran secara offline, terangnya akan dimulai setelah penutupan pendaftaran secara online. “Pendaftaran offline akan dibuka tanggal 29 Juni 2020 dan akan berakhir di tanggal 10 Juli. Jadi dari tanggal 29 Juni sampai 10 Juli 2020 untuk Ofline atau setelah penutupan berakhirnya pendaftaran secara online,” tandasnya.
Terkait protokol penerimaan secara online atau offline, Benyamin mengatakan ada protokol penting yang harus dijalankan. “Untuk penerimaan secara online tidak masalah namun yang masalahnya nanti penerimaan secara ofline dimana adanya masalah pertama adalah protokol kesehatan yang tidak boleh ditinggalkan,” terangnya.
Untuk pendaftaran sekolah perlunya Zonasi. Katakanlah bahwa dalam satu wilayah pelayanan sekolah itu mencakup beberapa desa maka pendaftaran bisa dibuat secara bergilir. Untuk desa A, B, C dan seterusnya, tidak secara bersamaan dalam satu waktu.
Hal ini dimaksudkan untuk tidak terjadinya penumpukan calon peserta didik pada satu lokasi pendaftaran. Yang Kedua, semua peserta wajib mengikuti protokol pemerintah dengan mencuci tangan, menggunakan masker, dan terpenting saat dilokasi pendaftaran harus jaga jarak. “Jadi semua anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan harus dilakukan yakni tetap jaga jarak, hindari kontak fisik dan sosial distancing itu tetap dilakukan”.
Ia menambahkan dalam pelaksanaan PPDB secara Online dan Offline tetap diberlakukan sistem Zonasi. Namun  berbeda dari tahun sebelumnya. ” Tahun 2020/2021, zonasi ditetapkan sebesar 50 persen. Tapi bukan berarti 50 persen itu tidak boleh lebih, tidak boleh kurang. Minimal  50 persen, jadi bisa diatas itu,” jelasnya.
Lanjut Benyamin, 30 persen lainnya akan diarahkan kejalur prestasi, dimana terbagi menjadi 25 persen  akademik dan 5 persen non-akademik.  Batas nilai prestasi akademik adalah 85,0 sementara non- akademik diarahkan ke prestasi olahraga dan seni budaya. Selain itu, ada 15 persen tersisa untuk afirmasi dan 5 persen untuk perpindahan tugas orangtua.
“Untuk afirmasi, sudah dialokasikan untuk beberapa sekolah di Kota Kupang itu siswa ADEM dari daerah 3T. Jadi, beberapa Kabupaten yang ada di NTT mereka kirimkan siswa untuk mengikuti program ADEM di Ibu Kota Provinsi. Alokasinya sudah untuk beberapa sekolah  negeri dan swasta  di Kota Kupang. Apabila sekolah yang menerima afirmasi dari siswa ADEM ini masih tersisa kuota afirmasinya, maka bisa ditambah dengan siswa afirmasi yang ada di sekitar Zona sekolah tersebut. Untuk afirmasi ini, sekolah diwajibkan menampung siswa penyandang disabilitas ringan,”papar Benyamin.
Harapannya peran Pendidikan di Provinsi di NTT dalam era New Normal ini tetap berjalan dengan baik. Karena  yang namanya pendidikan itu  hak dari peserta didik yang harus berikan. Sekalipun dalam era New Normal kita tidak kejar kurikulum tetapi pendidikan yang bermakna, pembelajaran yang bermakna itu wajib kita berikan kepada siswa. Sehingga dia tidak kehilangan waktu dalam masa pandemik Covid-19 ini.
“Pesan untuk guru, agar guru jangan melihat bahwa masa dirumahkannya proses pendidikan ini  adalah masa libur. Tetapi ini adalah masa suatu masa darurat dimana kita harus bertindak diluar dari kebiasaan untuk tetap melayani siswa kita.
 Untuk orangtua, saya berharap orangtua juga memberikan dukungan kepada anak-anak agar memanfaatkan masa dirumahkan ini dengan belajar walaupun target kurikulum tidak tercapai tetapi proses belajar harus  tetap berjalan sehingga dukungan orangtua itu tetap kami harapkan.
Kepada siswa, saya mengimbau bahwa ini bukan libur. Tapi ini adalah kesempatan belajar dari rumah dengan menggunakan berbagai metode yang diterapkan oleh sekolah,” pungkasnya. (MD)