Beranda Pendidikan Gelar Konpers, GAMMARA: NTT Nusa Tani, Ternak dan Pariwisata Bukan Tambang

Gelar Konpers, GAMMARA: NTT Nusa Tani, Ternak dan Pariwisata Bukan Tambang

226
0
MAKASSAR, RANAKA-NEWS.com – Polemik Tambang dan Pabrik Semen di Lingko Lolok Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menuai penolakan, mulai dari berbagai elemen masyarakat, antara lain Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Mahasiswa/i, Aktivis Lingkungan dan Tokoh Masyarakat Lainnya. Gerakan Mahasiswa Manggarai Raya (GAMMARA) Makassar akhirnya mengambil langkah tegas dengan menggelar Konferensi Pers di Benteng Somba Opu Kota Makassar, Selasa (14/07/2020) Pukul 17.00 Wita.
Konferensi pers ini sebagai bentuk penolakan terhadap hadirnya Tambang dan Pabrik Semen di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Kepada Ranaka-News.com, Fansisius Gunawan selaku Koordinator GAMMARA Makassar mengatakan bahwa hadirnya Tambang dan Pabrik Semen ini hanyalah kesejahteraan jangka pendek untuk masyarakat di desa Satar Punda karena setelah Tambang dan Pabrik Semen selesai masyarakat hanya akan menikmati dampaknya saja.
“Kabupaten Manggarai Timur daerah yang cocok untuk Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan pariwisata. Inilah potensi  yang harus dimanfaatkan oleh pemerintah Manggarai Timur. Tambang dan Pabrik Semen bukanlah solusi untuk kesejahteraan rakyat, karena PAD Matim sepenuhnya bersumber dari hasil Komoditi,” ungkap Bung Gie.
Lanjut dia, apalagi daerah yang dibangun Pabrik Semen itu adalah kampung Adat yang nantinya direlokasi, hal ini akan merusak kultur Manggarai artinya nilai-nilai budaya yang sudah lama diwariskan akan hilang.
“Maka dari itu kami Gerakan Mahasiswa Manggarai Raya (GAMMARA) Makassar Mendesak:
1. Mendesak KLHK agar tidak terburu-buru mengeluarkan surat rekomendasi IUP mengingat SK NO.8/MENLHK/SETJEN/PLA.3/1/2018 rentang Penetapan wilayah Ekoregion Indonesia, SK.297/MENLHK/SETJEN/PLA.3/1/2019 Tentang daya dukung dan daya tampung air nasional, peraturan menteri ESDM NO.17/2012 tentang Kawasan Bentangan Alam Karst.
2. Mendesak Gubernur NTT untuk melaksanakan program-program Pariwisata sebagai prime over sebagai penggerak utama ekonomi (Tambang bukan prime over).
3. Mendesak Gubernur NTT untuk menerapkan 2 poin Sustainable Development Goals (SDG) ; a. Memastikan konsumsi dan pola produksi yang berkelanjutan dan bertanggung jawab yang mana kita memikirkan masalah sampah lingkungan, dan b. Mengkonservasi kekayaan laut.
4 . Gubernur NTT, Laksanakan Isi Pidato Perdana.
5. Mendesak Bupati Manggarai Timur untuk mencabut Ijin Lokasi Pertambangan.
6. DPRD Manggarai Timur harus lebih utamakan kepentingan rakyat bukan kepentingan pribadi.
7. Pemerintah Daerah Manggarai Timur harus terapkan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Manggarai Timur No. 1 Tahun 2018 tentang Hak dan Kewajiban masyarakat hukum adat.
8. Mendesak Bupati Manggarai Timur untuk melaksanakan amanat UUD 1945 pasal 18 b ayat 2 tentang Perlindungan Masyarakat Adat,” tandasnya.
Adapun Solusi yang ditawarkan dari  Gerakan Mahasiswa Manggarai Raya (GAMMARA) Makassar :
1. Pemberdayaan Petani Lingko Lolok.
2. Ekonomi Kreatif dan Eko Wisata.
3. Wujudkan perlindungan sosial transformatif terhadap masyarakat desa Satar Punda khususnya dan masyarakat Matim pada umumnya. (Markus Kari)