Beranda Opini Pilkades Serentak, Pemilih Cerdas

Pilkades Serentak, Pemilih Cerdas

99
0
Oleh: Stefanus Useng, SH
Maju sebuah negara tentunya dimulai dari majunya suatu Desa. Ini tentu harus didukung dengan pemimpin yang baik, berintegritas, mempunyai program visi dan misi yang jelas, serta berpihak kepada masyarakat.
Untuk memperoleh hal itu, tentu peran dari masyarakat ini yang paling penting dengan cara menjadi pemimpin yang cerdas.
 Sepanjang ini, Bangsa Indonesia mulai dari perubahan dari masa orde baru, reformasi sampai dengan sekarang ini perpolitikan di tingkat nasional telah diakui oleh negara-negara lain bahwa indonesia adalah negara yang bertoleransi.
Kunci kemajuan suatu daerah sangatlah tergantung pada pemimpinnya, baik mulai dari pemimpin tingkat Desa/Kelurahan yang memimpin Desa, bahkan sampai pada tingkat Presiden.
 Untuk memajukan suatu daerah diperlukan seorang pemimpin yang berkualitas, yang memiliki jiwa membangun sehingga mampu mengelola daerah secara profesional dan berintegrasi
 oleh karena itu, untuk mendapatkan seorang pemimpin yang seperti itu, peran masyarakat untuk menjadi pemilih yang cerdas sangat diharapkan.
Aktivitas pemilihan kepala desa merupakan aktivitas politik yang menunjukkan bagaimana proses demokrasi terjadi di desa.
Sejauh yang kita tau bahwa Pemilihan kepala desa tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dinamika politik yang terjadi di desa.
Pilkades tidak semata perebutan kekuasaan atau bagaimana strategi kampanye dilakukan agar mendapat dukungan dari masyarakat desa, akan tetapi lebih daripada itu menyangkut gengsi, harga diri dan kehormatan sehingga seringkali di berbagai daerah proses Pilkades ini menimbulkan konflik di masyarakat.
Dengan menetapkan diri sebagai pemilih cerdas tentu memilih tidak sekedar asal memilih, tapi berdasarkan kriteria pilihan. Seperti bagaimana  intregritasnya, komitmennya, dedikasinya dan  menguasai berbagai masalah masyarakat serta bertanggungjawab pada aspiratif terhadap usulan pemilihnya.
Pemilih cerdas artinya pemilih yang rasional, obyektif, memilih berdasarkan penilaian dirinya, bukan atas dorongan uang, faktor saudara, suku dan lain-lain.
Maka pemilih cerdas itu pasti akan melindungi, memelihara, menyayangi serta senantiasa akan mengkampanyekan pilihannya kepada orang lain.
Pemilih cerdas itu tak akan merepotkan calon yg akan dipilihnya tetapi malah meringankan beban calon.
Untuk menjadi pemilih cerdas, obyektif dan rasional, pemilih tentunya harus tahu dan memahami cara-cara apa yg akan dibuat ketika calon pilihannya itu menang.
Apa dan bagaimana visi misinya, apa logis dan realistis bisa dilaksanakan atau tidak? Pemilih cerdas tentunya sudah bisa membaca, rekam jejak  si calon Kepala Desa selama ini.
 Apakah ia berwawasan dan pantas untuk menjadi Kepala Desa? Bukan karena alasan suka atau tidak suka, atau alasan saudara kelompok, suku  dan lainnya, apalagi alasan ‘memberi apa dan berapa?’ Melihat trek record calon bisa dilakukan melalui  media, pernyataan-pernyataannya ketika tatap muka dengan masyarakat, atau pengalaman jasa baktinya pada masyarakat selama ini.
Seorang Calon Kepala Desa sebelum mencalonkan atau dicalonkan tentunya harus sudah punya rancangan dan program. Akan kemana, akan berbuat apa ketika dirinya kelak terpilih, apa yang perlu dibenahi, apa yang perlu disegerakan untuk ditangani.
Calon Kepala Desa yang lebih baik perkataannya, perbuatannya, dan memiliki intregritas  niscaya dia akan lebih bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Kriteria calon Kepala Desa visioner seperti itulah kiranya lebih berhak mendapat kesempatan untuk dipilih. Bila kita mendaptkan Kriteria seperti itu yang diinginkan pemilih, karena tentu akan lebih baik dalam mengerjakan programnya ketika terpilih sebagai Kepala Desa.
Pilkades sejatinya merupakan filter untuk menyaring kualitas dan integritas calon pemimpin di daerah.
Masyarakat yang memiliki hak pilih ialah pemegang filter tersebut. Dalam menyaring, semestinya tak ada toleransi bagi karakter-karakter yang sejak awal sudah memperlihatkan bibit korupsi, seperti melakukan politik uang.
Masyarakat tak boleh pasif. Kitalah yang sesungguhnya paling berperan dalam melahirkan pemimpin yang bersih, elok, dan berkualitas. Setidaknya mulailah dengan memilih pemimpin yang antikorupsi dan punya komitmen memerangi korupsi.
Marilah kita bawa Pilkades serentak 2021 ini tak hanya sebagai pesta demokrasi yang tidak menciptakan klaster penyebaran covid-19, tetapi juga menjadi kontestasi yang mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin autentik yang bermutu, bersih, serta memiliki integritas tingkat tinggi.
Penulis: Wakil Sekretaris PERMATA Kupang