Beranda Regional SASANDO DIA, Ini yang Disampaikan Kepala Perwakilan BI NTT

SASANDO DIA, Ini yang Disampaikan Kepala Perwakilan BI NTT

568
0
KUPANG, RANAKA- NEWS.com- Dihadapan awak Media pada kegiatan SASANDO DIA (Santai-santai Baomong deng Media), yang berlangsung pada Senin (12/04/2021) Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), I Nyoman Ariawan Atmaja menyampaikan bahwa badai Siklon Tropis Seroja yang mengakibatkan terjadinya bencana Hidrometeorologi di beberapa wilayah di sejumlah Kabupaten/Kota di Provinsi NTT, berpotensi menjadi faktor penahan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021.
“Kami akan melakukan asesmen lebih mendalam untuk mengetahui dampak bencana terhadap perekenomian di NTT, setelah mendapatkan data dan informasi antara lain luas panen, peternakan dan infrastruktur yang terdampak bencana,” ujar I Nyoman Ariawan Atmaja.
Lanjutnya, perkembangan sistem keuangan pada Februari 2021 membaik, yang tercermin dari DPK, tumbuh 1,94% (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 0,99% (yoy). Di sisi lain, kredit tumbuh sebesar 4,10% (yoy) sedikit melambat dari bulan sebelumnya yang mampu tumbuh 4,32% (yoy).
Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan BI NTT dan berlangsung di Kedai Kopi Petir Kupang ini, I Nyoman Ariawan Atmaja juga menambahkan berdasarkan penggunaannya, kredit di NTT didominasi oleh kredit konsumsi dengan pangsa kredit sebesar 60% dan kredit produktif sebesar 40%. Kredit produktif (usaha) di NTT sebagian besar (62%) disalurkan ke sektor perdagangan berupa kredit UMKM.
Kegiatan yang berlangsung penuh keakraban ini juga turut pula dihadiri Deputi Kepala Perwakilan (Tim Perumusan dan Implementasi KEKDA), Hery Catur Wibowo, Deputi Kepala Perwakilan (Tim Implementasi SP, PUR dan MI), Daniel Agus Prasetyo, staf Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT serta awak Media baik dari Media Online, Cetak dan Elektronik.
Dikesempatan ini Deputi Kepala Perwakilan (Tim Perumusan dan Implementasi KEKDA), Hery Catur Wibowo mengatakan Restrukturisasi kredit akibat Covid-19 di Provinsi NTT tercatat sebesar Rp4,7 triliun dari 59.574 debitur pada Maret 2021. Mayoritas restrukturisasi kredit dilakukan oleh pelaku usaha di sektor perdagangan dengan kontribusi sebesar 65,1% terhadap total restrukturisasi kredit.
“Disamping itu, risiko kredit usaha tercatat masih tinggi, tercermin dari Loan-at-risk kredit modal kerja dan investasi yang melonjak sejak pandemi Covid-19 ke level 34,69% dan 58,93%. Bila dilihat berdasarkan sektor, tingkat risiko kredit di sektor akmamin, perdagangan, dan konstruksi masih berada pada level yang tinggi diatas 30%,” jelas Hery. (NA/T)